Lemo, Kambira, dan Makale

Menyambung postingan saya sebelumnya, perjalanan saya lanjutkan ke Lemo dengan kuburan batunya, Kemudian ke kambira dengan kuburan bayi yang berada didalam pohon dan akhirnya beristirahat dan makan sejenak di Makale. Letak Lemo masih sama yaitu berada di ruas jalan Rantepao – Makale. Berada disisi kiri jalan bila berkendara dari Rantepao. Supaya tidak terlewat jangan lupa perhatikan penunjuk jalan menuju Lemo yang ada dikiri jalan.

LEMO

Lemo

Seperti 3 objek wisata sebelumnya, di Lemo juga ada menyajikan wisata berupa Tongkonan dan kuburan batu. Bedanya dengan tempat sebelumnya adalah kuburan dilemo tidak Cuma digantung disisi tebing namun dimasukkan kedalam bukit melalui lubang lubang seukuran peti mayat. Lubang lubang tersebut jumlahnya cukup banyak, ada yang rendah dan ada yang tinggi sekali. Lubang lubang berisi peti mayat itu kemudian di tutup dengan semacam pintu/jendela dari kayu berukir.

Lemo

Yang luar biasa adalah lubang lubang besar itu dibuat dengan cara dipahat!. Tentu tidak mudah membuat lubang berukuran sebesar peti mayat ditebing dengan kemiringan 90 derajat dari ketinggian lebih dari 10 meter.

Ditebing tebing ini juga ada sekumpulan tau tau ( orang-orangan) yang berderet rapi tidak jauh dari tempat peti mayat. Tau tau ini melambangkan orang2 yang sudah meninggal dan dikubur didalam kuburan batu tersebut. Namun biasanya Cuma bangsawan saja yang dibuatkan Tau tau karena ongkos membuatnya yang mahal. Tidak adanya peti mayat yang mengantung serta deretan tau tau yang tersusun di Lemo membuat Lemo tampak rapi.

Tongkonan di Lemo

KAMBIRA

Untuk menuju kambira, kembali ke ruas jalan Rantepao – Makale bergerak menuju ke arah selatan. Nanti akan ada pertigaan sebelum masuk kota Makale. Dari sana berbeloklah ke kiri menuju Sangala. Ikuti jalan lurus terus tapi jangan lupa perhatikan penunjuk jalan di sebelah kiri.

Jalan menuju Kambira

Apa istimewanya Kambira ini? Berbeda dengan kuburan kuburan sebelumnya yang diletakkan di dalam bukit dan goa, kuburan di Kambira ini diletakkan didalam pohon!. Nama pohonnya adalah pohon Taraa’. Mayat yang dikuburkan didalam pohon inipun khusus hanya untuk mayat bayi yang masih belum tumbuh gigi susu. Di pohon taraa’ ini saya melihat beberapa lubang yang ditutupi dengan semacam ijuk. Itulah lubang yang digunakan untuk mengubur bayi2 tersebut. Jangan khawatir dengan bau busuk karena tidak tercium bau apapun walaupun Cuma dikuburkan didalam pohon.

Kuburan Pohon Taraa’

Karena hari sudah siang menjelang sore, dan saya sudah sangat lapar sekali, saya segera lanjutkan perjalanan menuju Makale untuk beristirahat untuk makan istirahat dan makan siang.

MAKALE

Dari Kambira berputar baliklah menuju jalan persimpangan tadi, kemudian bergerak menuju selatan menuju ibukota kabupaten Tana Toraja yaitu Makale. Yang menjadi pusat sekaligus landmark di Makale adalah sebuah danau buatan dengan sebuah patung yang berdiri dengan membawa gulungan dan tombak api?. Katanya sih patung itu adalah patung pahlawan Tator yaitu Pongtiku. Disekitaran tempat ini terdapat kantor DPRD, gereja dan beberapa bangunan lainnya. Yang paling penting diantara semua itu adalah mencari tempat makan!

Landamark Makale

Cuaca sejuk dan dingin serta perjalanan jauh tadi membuat saya benar benar kelaparan. Disepanjang ruas jalan Rantepao – Makale tadi sebenarnya ada beberapa tempat yang menjual makanan namun saya meragukan ke halalannya. Untungnya di sekitaran patung pongtiku ada rumah makan jawa yang lumayan enak..

Setelah puas menyantap dan mengisi perut saatnya kembali melanjutkan perjalanan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s