Perjalanan Haji : Armina

Setelah kurang lebih 3 minggu saya di mekkah, akhirnya tibalah hari pelaksanaan haji yang dinanti nanti.  Berbeda dengan umroh yang bisa dilakukan kapan saja, ibadah Haji terikat oleh waktu dan tempat sehingga hanya bisa dilakukan 1 kali setahun yaitu dimulai dari tanggal 8 dzulhijjah . Ibadah Haji merupakan perjalanan yang dimulai dari wukuf di arafah, mabit di muzdalifah, mabit dan melempar jumroh di mina dan berakhir setelah melakukan tawaf ifadhah, sai dan tahallul di Mekkah.

Peta Armina

Dan inilah cerita perjalanan saya….

Persiapan

Perjalanan haji adalah perjalanan yang panjang dan cukup melelahkan dari segi fisik dan mental sehingga perlu persiapan yang optimal agar kesempatan yang hanya datang sekali setahun ini tidak terlewat begitu saja. Menjelang hari hari Haji, jangan terlalu memaksakan diri untuk memporsir tenaga untuk kegiatan kegiatan yang tidak begitu penting. Lebih baik waktu luang digunakan untuk beristirahat dan perbanyak konsumsi makanan bergizi serta jangan lupa mempelajari tatacara haji yang benar.

Selain itu persiapkan juga barang barang yang mau digunakan selama di Armina ( Arafah, Mina, dan Muzdalifah). Tas yang dibawa kesana adalah tas dokumen dan tas jinjing. Tas dokumen diisi dengan passport, buku kesehatan, uang, dan barang lain seperti kamera pocket. Tas jinjing diisi dengan barang keperluan selama beberapa hari di Armina. Saya pribadi membawa 2 setel pakaian, 1 pakaian ihram cadangan, perlengkapan sholat, keperluan mandi, sleeping bag, dll.

8 Dzulhijjah

Tanggal 8 adalah hari dimulainya perjalanan ibadah Haji. Bis bis jemputan yang akan membawa jamaah menuju padang arafah sudah mulai berjejer satu persatu di depan hotel. Pakaian ihram mulai dipakai sejak dari hotel, namun niat untuk hajinya biasanya baru di ucapkan secara bersama sama saat bis mulai meninggalkan hotel menuju padang arafah. Jangan lupa untuk mandi dan membersihkan diri sebelum memakai pakaian ihram.

Didalam bis

Bispun mulai melaju, jamaah didalam bispun mulai melantunkan talbiyah tanpa henti.  Saat masih di kota mekkah, traffic agak macet namun setelah keluar mekkah kondisi lalu lintas kendaraan lancar jaya. Tidak hanya naik bis, tampak dikiri kanan banyak jamaah lain (dari Negara lain) yang memiih untuk berjalan kaki atau menggunakan sepeda. Terbesit dalam pikiran saya untuk ikut melaksanakan ibadah haji dengan berjalan kaki (ala backpacker) bila suatu saat saya mendapat kesempatan untuk ikut Haji lagi. Tidak lama bis mulai melewati Mina, di mina sudah banyak jamaah yang berada disana dan mendirikan tenda. Memang sebenarnya tanggal 8 ini di sunahkan untuk bermalam di Mina, baru ke esokan paginya wukuf di arafah. Namun sepertinya program dari pemerintah langsung membawa jamaah ke arafah, karena memang inti dari Haji adalah wukuf di arafah.

Tidak lama akhirnya kami sampai juga di Padang Arafah, dari jauh tampak tenda tenda darurat yang sudah didirikan dan diselingi beberapa pohon kecil yang kabarnya didatangkan dari indonesia. Tidak ketinggalan dari kejauhan masjid namirah berdiri dengan anggunnya. Bis melaju menyusuri jalan diantara tenda tenda hingga akhirnya kami sampai juga di depan kompleks tenda kami. Setiap tempat diberi nomor sesuai dengan maktab, sehingga bila suatu saat nanti jamaah tersasar, tinggal menyebutkan nomor maktab saja. Namun tetap saja kondisi tenda dan jalan disini sangat membingungkan, sehingga harus selalu ingat penanda lain yang ada agar tidak tersesat, bahkan didalam satu maktabpun tidak jarang yang salah masuk tenda.

nomor Maktab

Kondisi tenda sangat seadanya, hanya berupa kain yang dibentangkan dan di sambung kesana kemari. Didalam tenda beralas karpet yang cukup lumayan. Ukuran tenda pun pas-pasan sekali, artinya kalau tidur harus berjejer jejer seperti ikan asin baru bisa muat. Didalam tenda kadang ada gundukan tanah/batu yang cukup mengganggu, selain itu kadang ada pepohonan didalam tenda sehingga kami harus ekstra hati hati agar jangan sampai merusak pohon tersebut kalau tidak ingin kena dam ( merusak pohon termasuk larangan berihram).

Tenda di Padang Arafah

Disalah satu tenda ada tempat yang dijadikan sebagai tempat membagi bagikan makanan, makanan dibagikan 3 kali sehari secara prasmanan, artinya harus ngantri dulu. Kamar mandi dan tempat wudhu biasanya ada di tengah kompleks per maktab. Namun harus antri karena yang mau menggunakan tidak sebanding dengan jumlah kamar mandinya. Dalam kondisi begitu, jangan mengeluh, apalagi marah marah, soalnya kan sedang berpakaian ihram, jadi lebih baik bersabar dan terus memperbanyak ibadah, doa dan zikir. Oya Ada pengalaman religious yang cukup membuat saya deg-degan namun eeerrrrrr.. sepertinya tidak bisa saya ceritakan disini :p

Antri….

Malam ini kami akan menghabiskan waktu di Padang Arafah, dan menunggu esok siang hari untuk melaksanakan wukuf

9 Dzulhijjah : Wukuf di Padang Arafah

Inti dari ibadah Haji adalah wukuf atau berdiam diri di Padang Arafah yang dimulai dari tergelincirnya matahari siang hari sampai magrib. Tidak sah hajinya seseorang bila tidak melakukan wukuf di padang arafah. Wukuf ini sangat penting sekali, dikatakan bahwa haji itu adalah wukuf. Saking pentingnya bahkan dikatakan bahwa bila ada burung yang lewat di padang arafah pada tanggal 9 dzulhijah setelah siang hari, maka jadi hajilah burung itu.

Siang itu memang berbeda dengan hari hari biasanya, terasa lebih terang dan sunyi. Langit tampak hanya biru kosong tanpa ada burung ataupun awan yang terlihat. Setelah khotbah wukuf, jamaah sibuk berdoa dan berzikir tiada henti. Tidak jarang banyak yang meneteskan air mata menangis terisak isak terbawa suasana hati dan suasana di padang arafah saat itu. Padang arafah adalah miniatur padang mahsyar, disini semua manusia sama, kecil, dan tidak berarti apa-apa dihadapanNya. Semua menunduk menangis mengharap ampunan dan keselamatan.

Wukuf dilaksanakan sampai matahari terbenam, Setelah terbenam perjalanan dilanjutkan menuju muzdalifah untuk bermabit disana. Sistem pengangkutan jamaah dari arafah ke muzdalifah dilakukan secara bolak balik untuk menghindari terjadinya macet. Tapi karena dilakukan bolak balik, kapasitas jamaah yang di angkut terbatas sehingga perlu menunggu lama baru bisa ter angkut. Kadang ada juga jemaah yang tidak tertib sehingga ada yang berkelahi dan berebut naik bis. Untungnya saya dapat giliran naik bis tidak begitu lama. Perjalanan dari arafah ke muzdalifah padat namun tetap lancar.

Mabit di Muzdalifah

Saya akhirnya sampai juga di Muzdalifah. Di Muzdalifah semua jamaah berhenti dan berkumpul di satu tempat sehingga tampaklah lautan manusia disana sini. Saya dan jamaah lain langsung sibuk mencari batu batu yang ada di area muzdalifah yang nantinya akan di gunakan untuk melempar jumroh. Eitss hati hati ya jangan sampai tai kambing dikira batu, haha.. Setelah mengumpulkan batu, barulah bisa beristirahat. Di Muzdalifah tidak disediakan alas untuk duduk, jadi bolehlah menumpang duduk di tempat jamaah yang membawa tikar. Kalau sebelumnya bawa sleeping bag, disinilah benda itu digunakan.

Mencari batu kerikil

Mabit artinya bermalam, jadi kami akan bermalam di muzdalifah setidaknya sampai lewat jam 12 malam. Tidak punya penunjuk waktu? Jangan khawatir tower jam yang ada dimekkah itu kelihatan dari muzdalifah yang berjarak berkilo kilometer jauhnya. Rabun jauh? Jangan khawatir karena pada saat tepat jam 12 malam, ada lampu terang yang berasal dari tower jam yang menyorot jauh sampai ke muzdalifah untuk memberitahukan bahwa sudah jam 12 malam. Kalau sudah lewat jam 12 malam, artinya sudah dianggap bermalam di muzdalifah dan boleh melanjutkan perjalanan ke Mina. Namun nampaknya ada beberapa jamaah yang tidak sabaran, belum lewat jam 12 malam mereka sudah naik bis dan langsung berangkat keMina.

Suasana malam di Muzdalifah

System pengangkutan jamaah ke Mina sama seperti pengangkutan ke Muzdalifah, yaitu system bolak balik. Jamaah di angkut oleh bis permaktab secara bergiliran. Akhirnya jam 2 pagi barulah saya mendapat giliran diangkut ke Mina, dengan mata setengah ngantuk sayapun bergegas naik bis dan siap siap melanjutkan perjalanan melempar mabit dan melempar jumroh di Mina.

10 Dzulhijjah : Melempar jumroh Aqobah di Mina

Akhirnya sampai juga di Mina. Sama seperti di Arafah, di Mina juga yang tampak hanya tenda tenda disepanjang mata memandang. Namun tenda di Mina berbeda dengan di arafah karena sudah merupakan tenda permanen.Tendanya mengerucut ke atas dan diberi sedikit ventilasi. Didalamnya dipasang pendingin sehingga tenda di Mina lebih sejuk. Alas yang di gunakan sama dengan yang di arafah yaitu karpet namun pondasinya sudah rata tanpa ada gundukan maupun pohon pohon.

tenda di Mina

Malam itu kami singgah sebentar saja di tenda, hanya sekedar meletakkan tas dan istirahat sebentar sambil mencari posisi yang pas. Perjalanan langsung di lanjutkan menuju jamarat untuk melaksanakan lempar jumroh aqobah. Untungnya tenda tempatku tidak begitu jauh dari lokasi jamarat sehingga  perjalanan tidak begitu melelahkan. Setelah semua berkumpul, kami mulai berangkat secara bersama sama. Tidak jauh dari tenda kami sudah masuk melewati terowongan mina yang dulu sempat menimbulkan korban jiwa. Dulu terowongan ini dipakai keluar masuk, namun sekarang dibuat dibuat 1 arah saja.

terowongan Mina

Setelah berjalan kurang lebih 20 menit akhirnya sampai jugalah kami ditempat melempar jumroh. Berbeda dengan jaman dahulu, tempat melempar jumroh kini berupa bangunan besar berlantai 5 (atau 4 ya?). Alur keluar masuknya dibikin sedemikian rupa sehingga arus datang dan pergi tidak saling bertabrakan. Jumroh aqobah adalah jumroh yang paling besar, letaknya yang paling jauh.  “objek”yang dilempar bentuknya tidak berbentuk seperti tiang lagi seperti dahulu, namun sudah di buat sedemikian rupa untk memudahkan jamaah melempar. Bentuknya gepeng kesamping mirip dinding sehingga permukaan lemparan lebih luas dan lebih gampang dilempar. Pada saat saya datang jamaah haji belum banyak sehingga saya dapat dengan leluasa melempar jumroh tanpa harus berdesak desakan.

Jumroh Aqobah

Setelah melempar jumroh dilanjutkan dengan bercukur (tahallul awal) dan artinya saya sudah bisa melepas pakaian ihram  dan menggunakan pakaian biasa. Semua larangan ihram pun kini sudah tidak berlaku kecuali berhubungan badan. Setelah bercukur rasanya legaa sekali, dengan semangat kami kembali ke tenda untuk beristirahat.

Lebaran Haji

Tgl 10 dzulhijjah adalah hari raya idul adha. Diseluruh belahan bumi umat muslim sedang merayakan dan bersuka cita menyambut hari raya idul adha dengan memotong kurban.Sayapun ingin ikut merayakannya ke Mekkah yang dilanjut dengan Tawaf Ifadah. Namun hal itu tidak bisa terwujud karena tawaf ifadah dan sai nya akan diakhirkan setelah melewati hari hari tasyrik di Mina supaya tidak repot bolak balik mekkah-mina.

Hari raya qurban

Hari Hari Tasrik di Mina

Selama hari hari tasrik yaitu taggal 11, 12 dan 13 dzulhijjah kami akan tinggal sementara di Mina untuk melaksanakan melempar jumroh ula, wustho dan aqobah. Selain musim haji, Mina adalah tempat yang sepi, karena tidak ada yang tinggal dan menetap disana. Namun saat musim haji, Mina dalam beberapa hari tiba tiba menjadi kota dadakan yang dipenuhi oleh jutaan jamaah dari berbagai belahan dunia. Tenda tenda dan jalanan yang tadinya kosong kini penuh sesak. Para jamaah tidur berdesak desakan didalam tenda, untungnya kondisi tenda tidak seburuk tenda di padang arafah. Toilet terdapat ditengah tengah maktab namun harus mengantri bila ingin wudhu, buang air, mandi, terutama dipagi dan sore hari serta saat saat masuk jam sholat. Kondisi tenda dan jalanan di mina sepanjang mata memandang kurang lebih sama sehingga sangat menyesatkan bila tidak memperhatikan dengan seksama nomor maktab.

Suasana di Mina

Jalanan besar dan di antara tenda pun dipenuhi oleh jemaah yang hilir mudik kesana kemari. Tidak ketinggalan para penjual makanan/aksesoris dll memanfaatkan moment ini dengan menggelar dagangan mereka dipinggir jalan. Sama seperti di Arafah, makanan dan minuman di Mina juga dibagikan secara prasmanan, artinya harus meengantri dahulu satu persatu bila ingin mendapat makanan. Namun sayangnya sistem pembuangan sampahnya masih sembarangan sehingga banyak sekali sampah sampah bekas makanan yang menumpuk di pinggir jalan.

Jamarat

Mengenai lempar jumroh, letaknya tidak begitu jauh dari tenda kami. Menuju kesana harus melewati terowongan Mina yang kini di buat 2 arah. Melompar jumroh pada saat saat tertentu (zuhur) biasanya dipenuhi oeh jamaah dari negara lain yang fisiknya jauh lebih kuat daripada orang Indonesia, sehingga sangat berbahaya bila berdesak desakan dengan mereka. Lebih disarankan untuk melempar jumroh disaat yang “aman” saja yaitu pada pagi – subuh dan malam hari.  Disekitar jalan keluar dari jamarat, banyak sekali yang menyediakan jasa potong ram but. Buat jamaah yang laki laki disarankan untuk mencukur botak rambut.

Mina

Kembali ke Mekkah

Setelah melewati hari hari tasrik di Mina, saatnya untuk kembali ke Mekkah untuk melaksanakan Tawaf Ifadah dan sai serta Tahallul. Caranya kurang lebih sama seperti pada saat Umroh hanya saja sudah tidak berpakaian ihram karena sebelumnya sudah bertahallul awal setelah melempar jumroh Aqobah tanggal 10 dzulhijjah. Yang perlu diperhatikan adalah memilih waktu yang pas agar tidak berdesak desakan sekali. Biasanya pada saat awal tanggal 12,13 dzulhijjah kondisi masjidil haram sesak dipenuhi dengan jamaah sehingga sangat berbahaya untuk melaksanakan tawaf disaat itu.

masjidil haram

Setelah selesai melaksanakan dan tawaf dan sai ifadah serta bertahallul akhir, maka selesailah sudah proses perjalanan haji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s