Jepang Hari 3 : Kinkakuji – Ginkakuji

Kami terbangun dengan kedua kaki terasa pegal tidak karuan setelah berjalan berkilo-kilometer dihari sebelumnya. Tapi itu tidak menyurutkan semangat kami untuk bangun dan mandi pagi itu. Setelah mandi dan bersiap, kami berencana mencari tempat sarapan yang agak berisi karena 2 hari kemaren kami cuma makan onigiri, mie dan jajanan saja. Jadi pergilah kami pagi itu berjalan ke arah Shinsekai untuk mencari sarapan. Tapi ternyata kami datang kepagian. Semua toko masih tutup jadi kami berkeliling dulu disekitar sana. Area ini sebenarnya cukup padat cuma karena masih pagi jadi terasa sepi. Ditengah area ada tower yang namanya Tsutenkaku Tower. Mirip dengan Tokyo tower. Nggak tau kenapa Jepang suka banget membuat tower dengan gaya menara Eiffel gini. Selain warung makan disini juga banyak tempat bermain Pachinko dan Slot. Di depan toko ada beberapa patung patung yang unik yang berbentuk seperti.. hmm apa ya? Bayi tersenyum mungkin?? Ohya sebutan untuk patung ini adalah Biliken.

Karena sudah lapar akhirnya kami beli mie ( yah.. mie lagi..) di Lawson terdekat. Harapannya sih di Lawson ini ada tempat duduk untuk makan ditempat tapi ternyata tidak ada. Jadi terpaksalah kami nongkrong makan mi didepan ruko yang masih tutup. Tiba2 ada bapak yang ngajak ngobrol, かくかく、しかじか  (talk in japanese) tp kami gak tau dia ngomong apa jadi kami cuma bisa tersenyum. Mungkin dia ngelarang kami makan disana kali ya haha…  Setelah perut berisi baru kami berangkat ke Kyoto.

ARASHIYAMA

Tujuan kami yang pertama adalah Arashiyama bamboo groove yang berada di sebelah barat Kyoto. Kami sampai di stasiun Arashiyama yang ada di sebelah selatan (lewat Hankyu Arashiyama Line) jadi agak jauh daripada stasiun JR biasa. Turun dari stasiun kami jalan sedikit melewati Togetsukyo Bridge ( Moon Crossing Bridge ) yang pemandangannya lumayan bagus. Kiri kanan ada perbukitan hijau, dibawahnya ada sungai mengalir deras, jernih dan kelihatan segar banget. Sebenarnya mirip dengan alam yang ada di Sumatra Barat tp disini tidak ada satupun coret-coretan dan sampah. Enak tuh kayaknya kalau mandi mandi disana. Setelah melewati jembatan, kami terus berjalan ke area bamboo groove. Sama seperti Torii di Fushimi Inari kemarin, Area Bamboo groove ini juga terkenal di media sosial karena sangat fotogenik. Gambar Bamboo groove ini banyak di brosur2 jepang Padahal sebenarnya kalau dilihat lihat lagi sama saja seperti bambu di Indonesia cuma dibikin sedemikian rupa sehingga bambu itu berderet dan tersusun rapi. Area jalannya cuma jalan setapak tapi yang berfoto disana ramai sekali jadi harus ngantri supaya dapat foto.

Dari Bamboo Groove kami lanjutkan perjalan menuju Kinkakuji Temple yang lokasinya ada di Utara Kyoto. Kinkakuji ini juga sering muncul di brosur pariwisata jepang. Untuk kesana kami harus menggunakan Bis karena tidak ada kereta api yang menjangkau area itu. Untungnya Kansai Thru Pass yang kami gunakan tidak hanya mengcover tiket kereta api tapi juga mengcover tiket bis. Jadi kami tinggal memperlihatkan Kansai Thru Pass ke pak supir ketika akan turun dan tidak perlu bayar lagi. Di setiap halte bus ada keterangan jadwal, no, arah. Yang menakjubkan adalah kedatangan dan keberangkatannya bis sangat tepat waktu sesuai dengan jadwal yang tertulis di halte. Kami kira hanya kereta api saja yang bisa on time ternyata bis pun bisa. Budaya tepat waktu ini yang sangat saya kagumi dari Jepang. Tidak berapa lama menunggu, bis yang kami tumpangi datang, bisnya berukuran kecil namun bersih dan nyaman. Diatas pak supir ada layar TV yang menunjukkan pemberhentian berikut sekaligus biaya yang harus dibayar. Ohya ntah kenapa selama kami dibis yang naik turun sebagian besar adalah golongan lanjut usia. Kemana ya anak muda Kyoto?

KINKAKUJI

Sesampainya di Kinkakuji kami langsung membeli tiket masuk seharga 400 yen. Tiketnya unik karena hanya berupa kertas putih bertuliskan huruf kanji (yang kami tidak tau artinya apa) dan stempel kuil. Mirip kertas yang ada di film vampir china ituloh.. Sebenarnya kuilnya sangat menarik, berwarna emas mencolok, dikelilingi oleh kolam dan taman taman khas jepang. Sayangnya ketika kami datang,pengunjung kinkakuji ini lagi puncak ramai-ramainya. Kami cuma bisa mengikuti arah jalan yang sudah diatur oleh petugas dan tidak bisa mengexplor lebih jauh.

Kami kecewa karena tidak sesuai dengan yang kami harapkan. Maunya sih kami bisa jalan santai dengan tenang, mengexplor taman2nya yang cantik, melihat-lihat bunga bermekaran.. Karena sudah malas akhirnya kami putuskan untuk cepat-cepat keluar dari tempat itu. Diluar kami mampir sejenak membeli es serut matcha yang rasanya enak banget. Kami juga sempat mencicipi ayam goreng dan gorengan yang rasanya seperti bakwan tapi ditusuk kayak sate. Ada yang tau namanya?

GINKAKUJI

Untuk mengobati kecewa kami berpindah ke Kuil lain yang merupakan “saudara” dengan Kinkakuji tadi yaitu Ginkakuji. Lokasinya ada utara timur kota Kyoto. Kalau Kinkakuji tadi terkenal dengan warna emasnya (Golden Pavilion), maka Ginkakuji ini yang warna peraknya (Silver Pavilion). Untuk kesana kami harus naik bis lagi dan lagi lagi isi bisnya manula semua. Sesampainya di Ginkakuji kami bisa bernafas lega karena tidak seramai saudara emasnya tadi. Tiket masuknya lebih mahal sedikit yaitu 500 yen. Tapi kali ini kami tidak kecewa karena Ginkakuji ini sesuai dengan yang kami harapkan. Saat masuk kami di sambut Sand Garden yang lebih dikenal dengan Sea of Silver Sand. Disudutnya ada kerucut terpotong ukuran besar yang semuanya terbuat dari pasir. Kerucut ini namanya Moon Viewing Platform. Wuiihh keren-keren ya namanya. Sand garden ini kelihatannya hanya pasir biasa tapi diukir ukir sedemikian rupa sehingga memiliki pola yang menarik. Pembuatannya dilakukan setiap hari, diukir, digaruk, dibentuk dengan sabar. Melihatnya saja muncul kepuasan tersendiri. Apalagi kalau diacak-acak pasti rasanya lebih puas lagi mwahaha..

Lewat dari Sand Garden kami terus kebelakang menuju taman khas jepang yang asri banget. Hijaunya bikin segar. Tidak hanya pepohonannya saja yang hijau tapi bebatuan sekitarnya pun hijau karena diselimuti oleh lumut. Ada pula jembatan kecil dan kolam kecil yg jernih. Banyak orang yang melempar koin kebatu yang ada di tengah kolam. Kami tadinya mau ikut melempar juga tapi tidak jadi sayang duitnya. Dibelakang taman ada bukit kecil, Diatas bukit ini kami bisa melihat pemandangan kota Kyoto. Ohya.. Kuil Silver Pavillionnya memang tidak sebagus yg digolden pavillion (warnanya pun bukan silver) tapi tamannya oke punya…

Sorenya kami kembali ke Osaka. Sebelum pulang ke Hotel kami mampir dulu di Shin Osaka stasiun untuk mereservasi tiket Shinkansen yang akan kami pakai di hari ke 4 besok. Awalnya kami berencana ke Tokyo tapi terpaksa dibatalkan karena kami harus mengejar bunga sakura yang sudah mulai gugur di Hokkaido (Pulau yang ada ujung utara jepang). Reservasi tiket Shinkansen ini gampang saja, tinggal datang ke JR Office trus perlihatkan JR Pass. Nanti akan dicarikan kereta+Seat dan dicap di JR Pass sebagai tanda boleh masuk ke gate Shinkansen.

Setelah urusan tiket selesai baru kami lanjutkan misi kami tadi pagi yang belum terlaksana. Yaitu cari makan yang agak berisi (baca=bikin kenyang). Terus terang aja kami berdua tidak pernah makan makanan jepang sebelumnya. Pengetahuan tentang makanan jepang kami nol. Kami tidak tau nama makanannya, cara makannya, bahkan cara pakai sumpitnya pun gak tau. Karena bingung akhirnya kami putuskan untuk makan di Yoshinoya yang ada di dekat Yodobashi Umeda. Yoshinoya ini katanya ada juga di Indonesia jadi kami ngarepnya sih minimal ada menu berbahasa inggrisnyalah biar nggak bingung. Ternyata setelah duduk didalam semuanya menu berbahasa jepang, mbak2nya pun berbahasa jepang tanpa ada subtiitle. Terpaksa saya pilih yang ada gambar telornya biar aman. Setelah pesanan datang, lumayan enak sih kelihatannya. Semangkok nasi, dengan daun bawang yang banyak dan daging yang saya tidak tau daging apa. Telornya rupanya telor mentah; jadi telornya disaring dulu, trus diambil yang kuningnya aja trus dicampur ke nasi tadi. Rasanya hambar-hambar aneh gitu tapi habis juga hahaha.. Dalam perjalan pulang kehotel kami dapat minuman promo gratis! lumayanlah…

8 thoughts on “Jepang Hari 3 : Kinkakuji – Ginkakuji

  1. Tiket kuil Kinkakuji itu layak dikoleksi banget, soalnya unik. Btw, aku kok punya pikiran yang sama ya, pas melihat taman pasir di Ginkakuji itu. Rasanya pengen ngacak-ngacak aja, apalagi gunungan kerucut terpancungnya hahahaha.

    O iya, untuk JR pass itu bisa digabung atau satu orang harus pegang satu-satu? *pertanyaan awam banget*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s