Sei Jambat : Pulang Kampung

Pada postingan sebelumnya, v herry pernah bercerita mengenai kampung halamannya yang ada di Sumbar (baca disini). Kali ini bangardin yang akan bercerita mengenai kampung halamannya. Berbeda dengan kampung halaman herry yang berada di punggung bukit barisan, kampung halaman saya yang berada didaerah rawa di tepi laut, tepatnya di desa Sei Jambat ( ya, jambat… bukan Jamban) Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Lokasinya tepat di ujung paling timur Propinsi Jambi. Lokasinya sebenarnya tidak terlalu jauh dari Ibukota namun akses kesana sangat sulit. Dahulu dibutuhkan waktu satu hari untuk mencapai kampung saya itu sebab harus melewati banyak sungai, serta kondisi jalan yang sangat memprihatinkan. Sekarang sih sudah mulai mendingan tapi tetap terasa jauh.

Pagi itu kami berencana ke sungai Jambat untuk menghadiri acara salah satu keluarga. Kami berangkat subuh subuh sekitar jam 4.30 dengan menggunakan kendaraan pribadi menuju desa Nipah Panjang. Desa ini berada di muara Batanghari dan merupakan desa terakhir yang masih bisa dilalui kendaraan darat sebelum mencapai kampung saya. Kami sampai di Nipah Panjang sekitar jam 8.30 pagi. Dari Nipah Panjang, ada dua pilihan untuk ke sungai jambat, yaitu menyeberang sungai kemudian naik ojek atau dengan menyewa speedboat dan menyusuri muara Batanghari. Pilihan kami jatuh pada pilihan pertama. Perjalanan dengan ojek ditempuh satu setengah jam sebelum akhirnya kami tiba di kampung halaman. Benar2 melelahkan.

Kami dijamu dengan kelapa muda khas sungai Jambat dan aneka makanan laut yang lezat. Walaupun akses yang sulit dan sinyal yang hilang timbul namun rasanya semua terbayarkan dengan sambutan yang kami terima. Itulah yang paling saya suka dari Sei Jambat, masyarakatnya sangat ramah. Kampung tempat saya dilahirkan ini berada di tepi laut, menghadap selat berhala. Dari ujung kampung kami bisa melihat pulau berhala yang sekarang sudah menjadi milik propinsi Kepri. Namun sayangnya pantai yang ada di sini tidak bagus karena banyak mengandung endapan lumpur sungai, maklumlah daerah rawa rawa.

Walaupun begitu, daerah ini kaya dengan hasil laut, seperti Ikan, Kepiting, Rajungan dan Udang. Salah satu udang yang terkenal adalah Udang Ketak. Udang ini dikumpulkan oleh nelayan setempat kemudian di jual ke pengumpul, selanjutnya di eksport ke Luar Negeri terutama ke Thailand dan Hongkong. Beruntungnya Kami mendapat kesempatan untuk mencicipi udang ini. Penampilan dari luarnya sih tidak menyakinkan, sekilas mirip Isopod Raksasa ( Kutu laut ) yaksss.. tapi ternyata rasanya tidak seburuk penampilannya. Enak banget. Pantas saja sampai di ekspor ke luar negri.

Sebagai daerah berawa, banyak hewan hewan khas rawa yang ada disini. Salah satunya adalah Ikan Amfibi ( Mudskipper) yang menurut saya sangat unik. Orang lokal menyebutnya Tampakolok, atau ikan Tembakul. Ikan ini menghabiskan sebagian besar waktunya didarat dengan merayap di atas lumpur dengan kedua siripnya. Benar2 contoh evolusi yang nyata. hehe.. Eits, tapi ikan ini gak bisa di makan loh!

Note : Karena ini perjalanan dadakan, jadi kami tidak sempat bawa kamera yang biasa. Semua di foto dengan kamera HP LG G2. (kecuali gambar terakhir)

15 thoughts on “Sei Jambat : Pulang Kampung

  1. Ikan amfibi itu seperti dari zaman prehistorik begitu ya Mas bentuk dan cara geraknya :hehe. Bentuk udangnya juga kelihatannya unik dan enak banget, gemuk dan dagingnya banyak :hehe.

  2. Langsung merinding lihat gambar Ikan Ampibi-nya >.<
    Ahh baru tahu nama udang yang mirip kutu laut itu Udang Ketak. Pernah lihat sekali di televisi. Rasanya mirip lobster atau gimana, bang?

  3. weh tanjung jabung, jadi ingat dulu pernah dapat oleh oleh dari saudara yang panen hasil , waktu itu di daerah sungai lokan. udang nya serem serem gde tapi uenak he he. itu yang terakhir di foto pakai lensa tele makin seram haha, btw aktualnya sebesar apa sih mahluk itu, klw di bintan ada juga cuma kecil kecil jadi kurang srem, atau karna di perbesar kali ya hi hi i

  4. Saya pengen komen dua hal dalam tulisan ini. Pertama, saya ngakak baca caption “gagal diet”, mestinya ngajak saya yang butuh asupan gizi dan lemak😀

    Kedua, saya penasaran mengapa ikan amfibi dalam foto terakhir itu tidak bisa dimakan mas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s