Menatap Atap Sumatra

Ah.. tidak pernah bosan rasanya saya bercerita tentang gunung yang satu ini. Gunung yang dikenal sebagai atap sumatra ini memang selalu menarik untuk dilihat. Hamparan perkebunan teh yang hijau dan luas, warna warni dedaunan kayu manis dan bunga bunga di sepanjang jalan, dengan latar belakang Silhoutte gunung yang berdiri kokoh serta sekawanan awan yang menggelayut manja dibawahnya. Sebuah kombinasi ciptaan Tuhan yang sempurna.

Ya,Gunung itu adalah gunung Kerinci.

Pagi itu, kami berkendara menembus kabut dari Sungai Penuh menuju kaki gunung kerinci. Kabut tebal dan awan hitam membayangi sepanjang jalan, Puncak puncak hutan Hujan Taman Nasional Kerinci Seblat tertutup sepenuhnya oleh kabut. Kami serasa berjalan di negeri antah berantah yang mistis. Pakaian yang kami kenakan tidak sanggup menahan udara dingin yang mulai menyelinap masuk.

” Kalau Kabut tebal gini, gunung kerinci bisa nggak keliatan nih…. ” Gumam saya
Sebelumnya kami pernah melewati kaki gunung Kerinci namun selalu saja tertutup kabut dan awan tebal. Kami tidak ingin kembali mengalami hal yang sama. “mungkin cuma sementara saja” Herry berusaha menghibur saya.

Akhirnya kami sampai di perkebunan teh Kayu Aro namun kabut tebal masih menyelimuti. Kami pasrah. Mungkin hari ini kami belum ditakdirkan melihat gunung kerinci. Ada kekecewan terukir di wajah saya. Untuk menghibur diri, kami turun sebentar berfoto diantara hamparan kebun teh Kayu Aro yang diselimuti kabut. Selesai berfoto kami kembali memacu kendaraan kami. Setelah melewati belokan tidak jauh dari tempat kami berfoto tadi, tiba tiba semua menjadi terang….

Setelah melewati belokan, tidak ada kabut dan awan hitam sama sekali. Langit biru bersih membentang dan sinar matahari mulai menghangatkan wajah kami. Di ujung horizon sana, menyembul bayangan gunung kerinci dengan sedikit asap dari kawahnya. Kami merasa datang kedunia yang berbeda; dari dunia penuh kabut dan mistis ke dunia yang terang dan berwarna. ” Cuaca di gunung memang tidak bisa di prediksi ya ” kata Herry. Iya, Cuaca Gunung susah diprediski seperti suasana hati. Suasa hati saya yang muram kembali ceria, seperti anak kecil yang baru mendapat permen.

Akhirnya kami tiba dikakinya. kami menatap Sang Atap sumatra yang tinggi, besar, kokoh, angkuh namun penuh keindahan. Walaupun kami tidak bisa menggapai puncaknya, namun kami bersukur diberi kesempatan menatap Atap sumatra, Salah satu dari sekian banyak keindahan alam Indonesia.

20 thoughts on “Menatap Atap Sumatra

  1. pemandangan saat saya naik k atap sumatra sungguh luar biasa.,,padang , jambi bahkan samudraa hindia pun terlihat jelas.,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s