Kembali Ke Negeri Istana

Sejauh mata memandang yang kami lihat hanyalah Perkebunan Sawit. Belok kiri yang nampak sawit, belok kanan sawit, naik keatas, yang nampak sawit lagi, Turunan; ya ampun sawit lagi. Itulah sensasi yang kami rasakan saat mencoba jalan alternatif baru dari Pekanbaru menuju Kota Siak. Sawit ada di mana mana. Memang jalan baru ini membelah perkebunan sawit untuk memperpendek jarak tempuh Pekanbaru menuju Siak yang tadinya bisa 3 jam sekarang berkurang menjadi hampir 2 jam saja.

“Wah kita ada di Taman Nasional Kelapa Sawit…haha…”
Kami berdua cuma bisa tertawa miris melihat ntah sudah berapa ribu hektar hutan yang beralih fungsi menjadi kebun kelapa sawit. Pengalihan fungsi ini nampaknya dimulai sejak jaman otonomi daerah dengan alasan untuk memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat. ya tidak ada salahnya juga namun tetap harus terkontrol.

Sebelum ke kota siak, kami mampir dulu ke jembatan Sultan Syarif Hasyim yang ada di Perawang. Jembatan yang diresmikan tahun 2011 silam ini merupakan jembatan terpanjang di Riau. Panjangnya 1474 meter dengan lebar 12,7 m. Di atas jembatan ini terbentang sungai Siak dengan airnya yang berwarna merah kecoklatan. Samar samar di ujung horizon tampak kepulan asap yang berasal dari pabrik raksasa di tepi Sungai Siak. Hadirnya pabrik pabrik ini berdampak banyak terhadap kualitas air di Sungai Siak. Setiap tahun, kualitas air di sungai siak semakin lama semakin memburuk.

Kami kembali ke jalur kami menuju Kota Siak. Jalan menuju Kota siak adalah jalan paling datar, lurus, mulus dan panjang yang pernah kami lalui. Rasanya seperti berkendara di jalan tol. Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah yag megah menyambut kedatangan kami di Kota Siak. Kami pernah menulis tentang kota Siak 2 yahun yang lalu disini. Tidak banyak yang berubah dari kota Siak. Hanya Ada sedikit perbaikan di tepi sungai Siak serta renovasi dibeberapa sudut kota. Jalan yang bersih, rapi, serta taman taman hijau tetap menjadi daya tarik kota Siak.

Istana siak tetap menjadi Primadona Utama. Kami kembali mengunjungi istana ini. Tiket masuknya murah saja hanya 3000 rupiah. Saat itu Istana sedang bersiap menyambut ulang tahun kemerdekaan RI yang ke 69. Umbul-umbul bernuansa merah putih menghiasi setiap sudut Istana. Selain Istana, kami juga mengunjungi tempat bersejarah lainnya seperti makan SSK II, Balai Kerapatan adat Siak, makam Koto TInggi dan Masjid Raya Sahabudin.

 

21 thoughts on “Kembali Ke Negeri Istana

  1. Sekarang kalau baca Siak langsung yang keinget kasus mutilasi yang sadis itu😦 …padahal spot wisatanya cantik2 ya…kecuali pemandangan hutan sawit yang gundul itu😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s