Jejak Minang di Minahasa

Pagi itu, kami meninggalkan Manado menuju Tomohon. Dalam perjalanan kami melewati sebuah gerbang dengan atap ala Minang ( Atap dengan ujung runcing runcing – Atap Bagonjong ). Disamping gerbang tersebut terdapat patung bercat putih yang mirip dengan salah satu pahlawan nasional. Kami tidak melihat penunjuk apa apa digerbang tersebut, hanya ada tulisan arab yang sudah mulai terhapus karena termakan usia.

“itu gerbang kemana ya?”
Herry, yang saat itu sedang menyetir cuma bisa mengenyitkan dahi tanda dia sendiri pun tidak tau.

Karena penasaran dengan bentuk gerbangnya, akhirnya kami berbelok masuk untuk menelusuri jalan tersebut. Beberapa menit kemudian kami tiba di sebuah taman kecil dengan deretan pohon palem dan aneka bunga. Di tengah taman tersebut terdapat sebuah bangunan berwarna putih dengan atap Bagonjong khas Sumatra Barat. Bukan, bangunan itu bukan rumah makan padang. Rupanya bangunan itu adalah tempat makam Tuanku Imam Bonjol.

Tuanku Imam Bonjol adalah adalah pahlawan nasional yang berasal dari Sumatra Barat. Beliau dikenal sangat pemberani dan pantang menyerah dalam melawan penjajahan Belanda dalam perang Padri ( 1821 – 1837 ).

Kok bisa makam beliau ada di Manado? – Saya benar benar buta sejarah –

Dengan sigap saya segera meng “google” sejarah Tuanku Imam bonjol. Singkat cerita, Belanda sangat kewalahan menghadapi perlawanan Tuanku Imam Bonjol. Namun dengan cara licik, akhirnya beliau berhasil di di asingkan oleh Belanda ke Lotak, Pineleng, Minahasa, tidak jauh dari Manado. Pihak belanda berharap orang minahasa akan membunuh tuanku Imam Bonjol namun ternyata sebaliknya, Beliau malah disambut dengan ramah. Bahkan, beliau kerasan tinggal di sini karena merasa seperti di ranah minang. Pada tanggal 8 November 1864, beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Minahasa. Cerita lengkapnya silahkan baca disini.

Sebuah kehormatan bagi kami berada di makam beliau.
Ini dia foto fotonya :

Makam pahlawan yang gambarnya di abadikan pada uang pecahan 5000 ini,  hanya dilapisi oleh ubin putih yang melambangkan kesucian. Terkesan sangat sederhana untuk makam seorang pahlawan nasional. Walaupun sederhana, tetapi bersih karena dirawat oleh keturunan pengikut Tuanku Imam Bonjol. Satu satunya hiasan di bangunan ini adalah lukisan relief perjuangan yang menempel didinding belakang. Pose di relief tersebut mengingatkan saya dengan patung Imam Bonjol yang berada di Bonjol, Pasaman, Sumbar.

Tulisan yang terdapat di Batu Nisan :
Peto Syarif ibnu Pandito Bayanuddin
Gelar : Tuanku Imam Bonjol Pahlawan Nasional
Lahir : Tahun 1774 di Tanjung Bungo / Bonjol Sumatra Barat.
Wafat : Tanggal 8 November 1864 di Lota, Minahasa, Dalam pengasingan pemerintah kolonial belanda karena berperang menentang penjajahan untuk kemerdekaan tanah air, bangsa, dan negara.

Sekitar 50 meter Di belakang rumah bagonjong ini, ada sungai kecil yang bernama Malalayang. Di tepiannya ( harus menuruni 72 anak tangga), ada batu besar tempat bersuci Tuanku Imam Bonjol setiap akan menunaikan ibadah sholat. Sayangnya foto foto kami rusak tanpa alasan yang jelas.

Selain jasanya yang besar dalam perlawanan melawan belanda, Tuanku Imam Bojol adalah sosok yang merekatkan hubungan antara Orang Minang yang berada di Sumatra Barat, dengan orang Minahasa yang berada di Sulawesi Utara. Orang Minang dan Minahasa sangat akrab, ibarat penjual dan pembeli. Minang terkenal dengan jiwa dagangnya, sedangkan Minahasa terkenal doyan belanja. Cocok kan?

4 thoughts on “Jejak Minang di Minahasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s