Pemalakan ala Sumatra Barat

Kalau ngomongin Sumatra Barat, pasti terbayang bentang alamnya yang lengkap, ada gunung, bukit, lembah, danau, pantai bahkan pulau pun ada. Tidak cuma alamnya, budaya, rumah adat, dan makanannya juga lain daripada yang lain. Tapi bagi kami, ada satu lagi yang terbayang begitu mendengar kata Sumbar yaitu : Pemalakan.

Sebenarnya saya malas menulis hal hal jelek di blog ini, tapi apa boleh buat, masalah pemalakan di Sumatra Barat (Sumbar) ini sudah sangat melewati batas toleransi saya. Semua itu bermula kurang lebih 2 tahun yang lalu saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Ranah Minang ini. Saya dan Herry baru saja selesai mengunjungi tempat wisata Ngalau – Goa besar – di Payakumbuh. Mobil kami parkir di tempat yang sudah di sediakan. Saat akan keluar, tiba tiba entah datang darimana dua orang anak kecil berumur kira kira 8 tahun. Dengan ekspresi wajah yang datar dan lambaian tangan seadanya, mereka mencoba membantu mobil kami keluar dari area parkiran.

Herry menyodorkan uang 2000 namun di tolak.
“Kurang da, Parkir oto 5000” Katanya
Alamak mahalnya, lebih mahal pula daripada parkir di mall.
Karena sedang terburu buru, akhirnya kami merelakan uang 5000 kami berpindah tangan ke tukang parkir jadi jadian tersebut.

Ternyata tidak cuma sampai disitu saja, Tukang Parkir di Bukittinggi jauh lebih parah lagi. Kami kena parkir setiap kali mobil berhenti di pinggir jalan. Padahal kami sering berhenti di jalan hanya untuk tanya tanya penginapan. Bayangkan, 10 kali parkir saja sudah 10 x 5000 = 50.000 rupiah uang melayang sia sia. Apalagi saat weekend dan lebaran pasti tarif parkir disini naik berkali kali lipat.

Untung saja gambar Pandai Sikek ini ada di uang 5000, kalau di uang 10rb mungkin parkirnya 10rb juga.

ingat 5000 ingat pandai sikek ingat parkir

Sejak kapan anak anak boleh jadi tukang parkir? Kebanyakan tukang parkir ini liar, yang berarti bukan orang resmi dari dishub dan tidak pakai karcis parkir.  Oknum tukang parkir liar ini bervariasi, mulai dari anak anak ingusan, sampai ibu ibu pun ada. Seolah olah jiwa Tukang Parkir ini sudah mendarah daging dan menjadi bagian dari Budaya Minang. Kalau menolak membayar “uang parkir” siap siaplah mendengar kata kata ancaman yang membuat telinga panas. Jangan coba coba di tawar sebab tidak akan berhasil. Untuk menghindari bayar parkir, kami tunggu tukang parkirnya lengah kemudian kabur secepatnya. Tapi kami tetap waspada dan hati hati sebab saya pernah mendengar cerita bahwa ada yang mobilnya digores karena enggan membayar uang parkir.

Umumnya Preman berkedok Tukang parkir ini mengincar orang orang luar (turis) yang membawa kendaraan Berplat bukan BA – BA adalah nomor polisi Sumbar – dan orang orang yang tidak bisa berbahasa minang. Tapi jangan salah, sesama orang Minang pun bisa kena palak. Herry contohnya, Herry berasal dari Payakumbuh, asli orang minang namun tetap saja kena palak.

Terakhir saya dan herry kena palak saat berkunjung ke Panorama danau di atas dan dibawah. Rencananya kami ingin bersantai sejenak di Panorama sambil menyantap Buah Markisa yang baru saja kami beli dari Alahan Panjang. Belum Masuk, kami sudah ditodong 2 orang bapak bapak yang memaksa kami membayar tiket masuk 20ribu rupiah. Padahal setau saya, tiket masuk resmi ke Panorama tidak sampai 5000. Sesudah membayar 20ribu, jangankan dikasih karcis masuk, senyumpun tidak ada.

Herry kemudian tanya tanya soal parkir dengan bahasa minang. Kira kira artinya begini :
“Di atas bayar parkir lagi?”
“Iya, cuma 2000 aja kok” Kata Bapak itu
Singkat cerita kami sudah di panorama dan menghabiskan satu keranjang kecil markisa. Saat hendak pulang, muncul lagi 2 orang anak kecil meminta uang parkir mobil. Herry kemudian menyerahkan 2000 rupiah, namun lagi lagi ditolak sama anak anak itu.
“5000 da” katanya sambil menyodorkan tangan
“tadi kata bapak dibawah bayar parkir 2000 aja” kata Herry
Herry berusaha terus melaju tapi salah seorang anak menghalangi dengan berdiri tepat di sisi depan kanan mobil.

Anak itu bersikeras meminta uang parkir sebesar 5000 rupiah namun herry tetap tidak mau memberikan sehingga terjadi perang mulut. Anak anak ini benar benar keras kepala, mungkin diajarin sama orang tuanya supaya jangan gampang menyerah.
“udah her, lempar aja duit 2000nya, klo ngalangin tabrak ajalah” saya ikut kesal dibuatnya.
Herry kemudian melempar uang itu ke salah seorang anak kemudian mobil kami segera melaju menuruni bukit meninggalkan dua anak itu dengan sumpah serapah. Anak anak adalah gambaran masa depan bangsa. Miris sekali rasanya kalau harapan bangsa ini pikirannya sudah terkontaminasi dengan uang.

Kata Herry ” Sad but True, kantong jadi bocor kalo berwisata di kampung halaman sendiri, apalagi kalo bawa mobil bukan plat BA. Pungli sama parkir liarnya gak nahaaan”

Apakah Ekonomi Sumbar Sebegitu Susahnya? Sampai masyarakatnya harus menggunakan cara cara mudah untuk cari uang? Padahal Sumbar itu SDA nya luar biasa!

Mengenai campur tangan Pemerintah… aduhh saya tidak bisa berharap apa apa lagi dari pemerintah sebab dalam pemerintahan pun banyak pemalakan juga. Kami pernah di tilang oleh polisi Sawahlunto tanpa alasan yang jelas. SIM Herry di tahan begitu saja. Mungkin alasan satu satunya SIM kami di tahan adalah karena mobil yang kami pakai bernomor plat BH ( jambi). Sama seperti tukang parkir liar, Polisi juga mengincar mobil mobil luar berplat non BA. Dengan pemikiran bahwa kalau plat non BA, tentunya sidang dan urusan lainnya akan merepotkan sehingga diharapkan mau “damai” di tempat.

Tidak hanya di Sumbar, Budaya Pemalakan ini sudah mulai menyebar sampai ke Pekanbaru, Riau. Kota pekanbaru memang sebagian besar diisi oleh orang prantauan dari Sumbar sehingga “budaya” parkir ini terbawa sampai disini. Setiap meter jalan pasti ada tukang parkir. Untungnya, tingkat keparahannya lebih ringan daripada Sumatra Barat.

solusi terbaiknya?? Kemana mana jalan kaki atau pakai kendaraan umum!

33 thoughts on “Pemalakan ala Sumatra Barat

  1. *pitih wkwkwkwkwk … setuju dan pernah punya pengalaman “dipalak” waktu nyari travel di indarung, padang… btw gak semua orang minang kayak gitu bang🙂

  2. waaahhh… memalukaaaaannnn buangeeettt *ikutan emosi

    Tapi saya juga ngga tau karena belum pernah ngalamin… Coba aja postingan ini di link ke blog gubernur… Dia juga punya blog wordpress kalo ngga salah…

    • Masalah ini sudah jadi masalah umum kok terutama di bukittinggi. Saya yakin gubernur juga sudah ada tindakan seperti ancaman penjara buat tukang parkir yg memungut tarif lebih.. tp yaa tukang parkirnya tetap nakal

  3. Duhh kok pemalak ini cari segala cara nakal buat ngoleksi “pandai sikek” sebanyak-banyaknya karena diklaim sebagai milik Sumatera Barat gitu… Ahh kalo begini caranya kapan bisa majunya sektor pariwisata di sana😐

  4. Udah merambah ke Sumut juga nih. Masa parkir di Bukit Lawang diminta 20ribu. Sampe saya pun mengeluarkan komentar yang sama “lebih mahal daripada Sun Plaza yang jelas-jelas aman”

  5. ini sebenarnya efek beruntun karena tidak dikelolanya dengan baik. masyarakat terpinggirkan jadilah mereka seperti ini, mencari uang dengan segala cara.

  6. masyarakatnya belum sadar wisata saya rasa..di pantai padang juga seperti itu… baru berhenti sebentar, lewat “tukang palak” beberapa ment kemudian “dipalak lagi”

  7. lebay banget bang, saya yang bolak balik bawa dokter acara konferensi maupun wisata ke padang belum pernah tuh mengalami seperti yang anda ceritakan.

  8. kalian gak tahu sih, ada urang minang yang cadiak buruak! (CERDIK JELEK) terutama orang yang gak pernah ngeliat dunia luar (luar sumbar), kurang berpendidikan.. mindsetnya sempit banget, minim inovasi, soal agama mungkin juga kurang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s