36 Jam di Kupang dan Sekitarnya

Berat rasanya meninggalkan Pulau Sumba, namun perjalanan kami harus terus berlanjut. Siang itu kami bertolak dari Bandar udara Umbu Mehang Kunda, Waingapu menuju Bandara El Tari Kupang. Kupang adalah ibukota Propinsi sekaligus kota terbesar di NTT. Kupang ini berada di Pulau Timor, di sebelah timur Pulau Sumba dan masih satu daratan dengan negara tetangga kita, Timor Leste.

Bandara El Tari Kupang

Bandara El Tari Kupang

Setelah 1 jam lebih mengudara, pesawat baling baling kami naiki mendarat dengan kasar di Runway Bandara El tari. Cuaca hari itu mendung, namun masih terasa sangat panas sekali. Kami berhenti sebentar di papan nama Bandara El Tari dan mengambil beberapa foto narsis. Keluar terminal, kami langsung mencari taksi menuju hotel tempat kami akan menginap yaitu hotel Maya. 

Pemandangan dari kamar hotel Maya

Pemandangan dari kamar hotel Maya

Hotel ini Lokasinya cukup strategis dan indah karena langsung menghadap ke Laut (waterfront). Dari kamar hotel ini kami bisa melihat laut dan siluet pulau Semau. kami beristirahat sebentar sambil memikirkan apa saja yang akan kami lakukan di Kupang. Kami hanya punya waktu kurang lebih 36 jam untuk mengeksplorasi Kupang dan di sekitarnya. Jadi Enaknya kemana aja kita???

Hal yang pertama terpikirkan oleh kami adalah Gong Pedamaian. Gong ini berada di Taman Nostalgia, untuk sampai kesana kami cukup menggunakan angkutan umum ( Angkot ) dan sedikit jalan kaki. Taman Nostalgia ini cukup ramai terutama di sore hari, banyak yang menjual aneka makanan seperti bakso ( lagi lagi bakso ), soto, aneka mie, dll. Cocok banget buat menghabiskan waktu bersama keluarga/teman/pacar. Saya kagum dengan Kupang, Walaupun alamnya gersang, tapi tetap disediakan taman terbuka untuk umum. Beda dengan kota di Sumatra *ehem* pekanbaru *ehem* yang minim taman, kalaupun ada tapi sedikit lampu penerangan dan di beri pagar tinggi tinggi, sehingga sering dijadikan tempat mojok.

Err.. balik ke Gong Perdamaian.. Setau saya Gong Perdamaian ini ada di 5 kota di Indonesia ( Mungkin lebih ), yaitu di Ambon, Kupang, Jogja, Ciamis, dan Singkawang. Kupang dipilih karena ke anekaragaman masyarakatnya sehingga diharapkan bisa selalu menjaga perdamaian. Gong ini berisikan peta indonesia, lambang agama, lambang propinsi dan lambang ratusan kabupaten dari ribuan pulau se Indonesia. Baru beberapa menit kami foto foto disekitar Gong, kami di tegur oleh petugas setempat. katanya hanya boleh foto foto dari luar. ya udah deh, damai dong pak…

Rame!

Full Musik dan Rame!

Menjelang malam kami kembali naik angkot menuju daerah pantai kupang. Ntahlah, kami kurang tau nama daerahnya, yang jelas tempat ini sangat ramai sekali dengan warga lokal dan bule-bule kere. Alunan musik terdengar tidak henti henti, entah itu di angkot, ditepi pantai, semua sama sama full musik. Tapi bukan lagu dangdut ya. Dari sana kami berjalan ke arah jalan siliwangi, sebuah jalan dengan trotoar yang sempit tapi ramai dengan pertokoan dan orang orang yang hilir mudik. Masih disekitaran jalan ini, ada daerah yang disebut dengan kampung solor. Kampung solor ini banyak dihuni oleh orang orang solor ( You don’t say..), yang menjual aneka makanan laut segar. Kami mencoba ikan kerapu goreng tapi satu ikan berdua karena harga disini lumayan mahal. Heran, padahal kan seharusnya harga makanan laut disini murah karena sangat dekat dengan laut.

Besok harinya kami menyewa motor dari hotel dengan biaya 75 ribu untuk satu hari penuh. Dengan motor ini kami bisa menjelajah kupang dengan waktu yang lebih efisien serta lebih leluasa bepergian ketempat tempat yang tidak terjangkau oleh angkot. Dengan hanya bermodal google map dari hp kesayangan, kami siap menjelajah lokasi wisata di sekitar kupang!

Tempat pertama yang kami kunjungi hari ini adalah pantai Tablolong. Lokasinya ada di ujung Barat Daya kota kupang, tepatnya di Kabupaten Kupang Barat, kira kira 25 km dari Kupang. karena dekat kota, pantai ini sudah dibikin komersil. Buktinya untuk masuk ke kawasan pantai ini kami harus membayar uang masuk 2000 dan uang parkir 1000. Sebenarnya Harga yang masih tergolong murah sih.

Daerah Berkarang Pantai Tablolong

Daerah Berkarang Pantai Tablolong

Kawasan pantai ini lumayan luas. Yang pertama kami lihat adalah pantai biasa dengan fasilitas sederhana seperti toilet dan tempat berteduh. Pasir pantainya tidak putih tapi air lautnya sangat tenang, cocok sekali buat mandi mandi bersama keluarga. Lebih kedalam lagi, tepi pantai di penuhi karang karang terjal dan hutan bakau. Tempat ini sangat bagus sekali untuk berfoto foto narsis hehe… Lebih lebih masuk kedalam lagi, kami menemukan kawasan pribadi dengan area yang di kelilingi pagar pagar. Mungkin untuk masuk harus bayar lagi kali ya??

Dari Tablolong kami ke air terjun Oenasu. Sesuai namanya, Air terjun ini berada di desa Oenasu, Kec Kupang barat. Lokasinya juga masih tidak jauh dari Kupang, hanya sekitar 17 km saja. Gak perlu takut tersesat, kan ada google map hehehe… Sama seperti tablolong, disini pun dikenakan biaya masuk dan parkir. Ukuran air terjun Oenasu tidak terlalu besar jika dibandingkan air terjun di Sumatra atau Jawa. Debit airnya juga tidak terlalu banyak, mungkin kebetulan ketika kami kesana sedang kemarau. Tempat ini lumayan rame dengan penduduk lokal terutama anak anak, ada yang memancing, bermain air, piknik, atau cuma sekedar cuci mata saja. Saya maklum, Tempat ini memang paling cocok untuk mendinginkan diri dari udara kupang yang sangat panas.

Sebentar saja kami di Oneasu, sebab kami harus melanjutkan perjalanan menuju sebuah tempat yang akhir akhir ini jadi primadona di Kupang, yaitu Goa Kristal. Hih! nama dan foto fotonya di internet benar benar membuat kami penasaran!. Lokasinya sangat misterius, karena tidak ada petunjuk jalan apapun. Petunjuk awalnya adalah, goa ini berada di Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, kabupaten Kupang. Petunjuk kedua adalah lokasinya sangat dekat dengan DITPOL AIR BOLOK ( Polisi Perairan) dan pelabuhan Bolok.

Untuk menemukan tempat ini, kami berkendara menuju DITPOL AIR BOLOK. 100 meter sebelum DITPOL AIR ini, ada batu batu karang dengan sebuah pohon cukup rindang. Tidak ada penanda apa apa kecuali bahwa pohon ini sudah di ukir dengan berbagai ukiran vandalism. Kalau beruntung (seperti yang kami alami), akan ada kendaran lain yang akan parkir di sekitar lokasi. Kami berhenti di lokasi tersebut dan berjalan menyusuri batu batu karang dan semak. Cukup ikuti kata hati dan insting, maka pasti akan sampai di mulut Goa.

Gua ini vertikal,itu artinya kami harus turun untuk mencapai dasarnya. Tidak ada penerangan apa apa kecuali matahari yang menyelinap masuk dari mulut goa. Jadi harus ekstra hati hati untuk menuruninya. Didasar goa ini terdapat kolam biru yang sangat bersih dan bening, saking beningnya kami bisa melihat dasar kolam ini dengan sangat jelas. Beningnya itu seperti kristal. Saya rasa inilah yang menjadi inspirasi nama goa ini. Sekilas, kolam ini nampak dangkal, namun kalau di selami ternyata sangat dalam sekali. Mungkin, ada penghubung antara kolam ini dengan laut.

Goa Kristal

Goa Kristal ( ada penampakan lagi mandi…)

Bening banget!

Bening banget!

Puas dari goa kristal, kami kembali menuju Kota Kupang untuk makan siang. Kami mencari Se’i yaitu daging asap khas NTT. Biasanya berasal dari daging Babi atau daging Sapi. Mirip Bacon kalau di luar negeri sono. Se’i daging babi banyak sekali tersebar di seantero Kupang, tapi kami tidak makan babi, jadi kami putuskan untuk mencari se’i daging Sapi. Dari net, kami dapat info kalau se’i daging Sapi yang enak ada di Rumah Makan Tanjung. Tapi sayangnya kami sangat kecewa berat dengan pelayanan rumah makan ini. Pelayanannya sangat Buruk!. kami sangat tidak merekomendasikan siapapun untuk makan disini.

Sorenya kami berkendara melewati jalan Timor Raya yang lebar. Tujuan kami yang terakhir adalah pantai Lasiana. Pantai ini sudah sangat terkenal di Kupang, ingat Kupang ya ingat Lasiana. Sore itu pantai lasiana di padati oleh banyak pengunjung dari berbagai daerah di Timor maupun daerah lain di Indonesia. Pantainya cukup landai dan lebar dengan ombak yang sangat tenang. Di pinggirnya banyak pohon lontar yang menambah rindang. Kawasan di sekitar pantai ini sudah dikelola oleh pemerintah dengan cukup baik.

Kami sengaja datang ke Pantai ini saat sore hari karena kami dengar sunset di pantai ini sangat bagus. sayangnya sore itu matahari bersembunyi malu malu di balik awan kota Kupang yang tebal. Kami gagal mendapatkan sunset yang bagus. Apakah ini pertanda bahwa kami harus kembali lagi ke Kupang?

Dengan menghitamnya langit pantai lasiana, kami mengakhiri petualangan 36 jam kami di Kupang.

18 thoughts on “36 Jam di Kupang dan Sekitarnya

  1. waiyaahhh mantep bener. Saya cuma lewatin Pantai Lasiana dan gak mampir ke air terjun Oenasu. Kalian beruntung banget datang masih terang ke Goa Kristal. Penampakannya ajibbbb!!! Aaakkk saya iriii *nyungsep*

  2. Bang, maafin yaa waktu di Kupang. Saya orang kupang, jadinya gak enak waktu bang cerita kalau makan di rumah makan tanjung gtu. Tapi moga senang bisa kesini, kapan2 ke Flores aja bang. Lebih keren itu 😎.
    Kupang sebenarnya keren tapi kurang ditata rapi kotanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s