Jelajah Taman Nasional Laiwangi Wanggameti

EErrr….. sebenarnya judulnya terlalu lebay karena sebenarnya kami hanya mengujungi sebuah air terjun saja yang berada di “pinggiran” Kawasan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti (selanjutnya disingkat menjadi TNLW ya). TNLW ini berada di Pulau Sumba, tepatnya di sebelah selatan Kabupaten Sumba Timur.

Simpang Tarimbang

Simpang Tarimbang

Perjalanan kami menuju TNLW ini bermula saat kami pulang dari Pantai Tarimbang (tepatnya di simpang Tarimbang ). Karena merasa masih punya banyak waktu, kami berbelok ke arah Malahar. Dari Kampung Malahar ini katanya sudah tidak jauh lagi dengan Pintu masuk TNLW. Memang Kalau di lihat google map sih, jarak dari Simpang Tarimbang ke Pintu Masuk TNLW itu dekat banget jadi kami pikir tidak akan menghabiskan banyak waktu.

Tapi ternyata kami salah besar pemirsah. Walaupun tampak dekat, namun jalan menuju TNLW ini YASSALAM banget kondisinya. Jalannya hancur parah, Penuh batu dan kerikil. Rasa rasanya jauh lebih parah daripada perjalanan kami ke Salura kemaren. Selain Hancur, jalannya juga berputar putar sehingga tidak efisien dan banyak menghabiskan waktu. Kalau di hitung hitung, mungkin kecepatan kami tidak sampai 10km/jam. Yah beginilah Sumba, Alamnya yang menakjubkan namun tidak didukung oleh sarana yang memadai.

Setelah ratusan makian terhadap kondisi jalan sumba, akhirnya kami sampai juga di pintu gerbang TNLW. Untuk jarak sependek itu, kami menghabiskan waktu hampir 2 jam lamanya. Kami tiba saat jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Udara mulai terasa dingin.

Pintu masuk TNLW. Tidak megah memang,..

Pintu masuk TNLW. Tidak megah memang,..

Berbeda dengan kondisi alam Sumba Timur lainnya yang relatif gersang dan tandus, Yang kami temukan di TNLW ini justru sebaliknya. Banyak pohon pohon besar dan rindang serta beraneka hewan dapat ditemukan disini. Yang menjadi icon TN ini adalah Kakatua Jambul Orange (Cacatua sulphurea citrinocristata), sebab burung kakatua jenis ini HANYA DAPAT DITEMUKAN di pulau Sumba. Tapi keberuntungan tidak berpihak kepada kami karena kami tidak menemukannya. Mungkin karena sudah sore hari, burung ini sudah pulang ke sarang masing masing. Yang kami dapat hanya suara suara hewan mulai dari burung, monyet, serangga, dan suara suara lain yang tidak bisa kami kenali. Untuk lebih lengkapnya mengenai TNLW, bisa lihat disini.

Mundur sedikit sebelum pintu masuk TNLW, ada pertigaan kecil menuju air terjun Laputi. Air terjun ini masih berada di kawasan TNLW, tepatnya di desa Praingkareha, Kecamatan Tabundung, Sumba Timur. Katanya air terjun ini tidak pernah kering. Ternyata memang benar, walaupun kami datang pada musim kemarau tapi debit air terjun ini tetap banyak. Ajaib sekali rasanya merasakan percikan air ditengah hutan lebat setelah beberapa hari sebelumnya hanya melihat sabana yang tandus dan gersang. Rasanya seperti menemukan oase di tengah gurun.

Air terjun laputi terdiri dari banyak air terjun kecil bertingkat dengan kolam kolam kecil diantaranya. Air terjun tertinggi berada ditingkat paling atas. Untuk mencapai ke atas, kami harus memanjat beberapa air terjun kecil. Katanya, saat musim hujan, tingkat paling atas ini susah di capai karena debit airnya luar biasa.

Air terjun tertinggi

Air terjun tertinggi

Katanya di puncak air terjun tertinggi ini ada telaga/ danau yang bernama Telaga Laputi. Di tempat ini terdapat belut putih Apu yang dipercaya merupakan nenek ( Apu = nenek ) moyang dari orang Sumba. Sayangnya kami tidak sempat kesana sebab matahari sudah mulai tenggelam dan itu artinya kami arus segera meninggalkan air terjun Laputi.

Danau laputi Sumber foto dari sini

Perjalanan pulanglah yang paling menyebalkan. Kami harus melalui lagi 2 jam perjalan penuh siksaan dari desa Praingkareha sampai ke simpang Tarimbang. Kali ini lebih menantang sebab kondisi badan sudah sangat capek ditambah kondisi di sekeliling sudah gelap… Waktu berlalu dengan lambat, kami akhirnya sampai di simpang Tarimbang. Dari sini kami masih harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam lagi untuk sampai di Waingapu.

Desa terakir yang kami lihat sebelum gelap datang...

Desa terakir yang kami lihat sebelum gelap datang…

14 thoughts on “Jelajah Taman Nasional Laiwangi Wanggameti

  1. Sayang sekali memang, tempat wisata di Indonesia banyak sekali yang indah tapi minim akses. Makanya, wisatawan kita lebih banyak yang lari ke luar.😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s