Hampir Putus Asa ke Salura

Saya berusaha membetulkan posisi duduk saya ketika motor yang kami kendarai meraung raung karena menaiki jalan menanjak penuh kerikil. Sebelumnya,salah satu motor rombongan terjatuh. Saya tidak ingin mengalami nasib yang serupa. Perlahan lahan motor yang kami naiki berhasil mencapai puncak jalan. Kami bisa bernafas lega sekarang. Tapi itu cuma sementara, sebab masih ada puluhan km lagi jalan seperti ini yang harus kami lalui.

Salura

Pulau Tujuan : Salura

Malam semakin larut, tidak ada lagi penerangan yang tampak kecuali dari motor dan bintang bintang dilangit. Rasa dingin mulai terasa menusuk sampai sumsum tulang. Campur aduk, itulah yang saya rasakan saat itu. Putus asa, capek, dingin, lapar, pengen cepat sampai, sampai sumpah serapah kepada petinggi Sumba Timur karena “cantiknya” jalan lintas Waingapu – Ngonggi.

BELUM KE SUMBA KALAU BELUM KE SALURA. Itulah Slogan @mr_brightside14 yang menjadi awal perjalanan gila kami menuju Salura. Salura adalah sebuah pulau kecil di selatan Pulau Sumba. Ya agak aneh memang slogan diatas karena sebenarnya keduanya adalah dua pulau yang berbeda. Pulau Salura ini terkenal dengan pantai pasir putihnya yang lembut, landai dan belum terjamah wisatawan. Karena belum terjamah, otomatis akses kesana pasti sangat sangat sangat sulit.Namun slogan @mr_brightside14 tadi menjadi semacam cambuk untuk menambah semangat kami untuk mengunjungi pulau ini.

Untuk memuluskan rencana kami, kami meminta tolong kepada teman PTT @mr_brightside yang dulunya pernah bekerja di puskesmas Ngonggi. Cakupan kerja puskesmas ini salah satunya adalah Pulau Salura. Untuk mencapai Salura, kami harus melewati jalan penuh rintangan dari Waingapu sampai Pantai Katundu, Setelah itu dilanjutkan dengan mengarungi Samudra Hindia yang ganas.

Sumba Timur

Sumba Timur. Rute dari Waingapu menuju Salura. (A) Waingapu, (B) Kawangu, (C) Tanarara / Matawai La Pawu, (D) Kananggar, (E) Ngonggi / Karera, (F) Katundu. Yang dilingkar adalah Pulau Salura, Pulau Kotak dan Pulau Mangudu

Untuk menyeberang dari Katundu menuju Salura, kami meminjam Ambulans air milik Puskesmas Ngonggi. Namun BBM nya harus kami yang sediakan dong. Alternatif lain adalah dengan menumpang perahu nelayan tiap hari SELASA (Waktu pasar di Salura). Mereka berangkat pagi, dan pulang jam 12 siang. Jadi kalau ikut nelayan, cuma punya waktu kurang dari 6 jam di Salura ( Bisa dapat apa?). Kalau ketinggalan perahu, maka akan STUCK di Salura sampai selasa berikutnya. Apes banget dah.

Hari keberangkatan yang ditunggu akhirnya tiba. Kali ini kami berangkat tidak cuma berdua, sebab anak-anak Dokter PTT sumba Tengah tampaknya tidak mau melewatkan kesempatan langka ke Salura. Totalnya ada 7 orang dengan 4 motor. Sebelum berangkat, semuanya wajib kumpul di Waingapu. Apa dikata, Janji pagi, datangnya sore. Malang memang tidak bisa ditebak, Ban salah satu Dokter PTT Sumba tengah Pecah dijalan trans Sumba. Akibat telat, kami terpaksa harus membawa BBM sebanyak 60 L di atas motor!. Rencana awalnya, BBM tersebut mau dititipkan ke Ambulans yang mau ke Ngonggi. Namun apa lacur, Ambulansnya sudah berangkat dari pagi tadi. Jadilah kami berangkat kesorean dengan beban jerigen dan galon penuh berisi BBM disisi kiri dan kanan motor.

Baru jalan beberapa kilometer, salah satu galon pecah dan menumpahkan BBM kejalan. Terpaksa kami berhenti dan menampung Galon Bocor tersebut sementara yang lain mencari jerigen yang lebih layak pakai. Setengah jam lebih baru masalah ini beres.

Akhirnya kami benar-benar berangkat walaupun jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Daerah yang kami lewati untuk sampai Katundu adalah : Kawangu, Tanarara, Kanaggar, dan Ngonggi. Dipertigaan Kawangu, kami berbelok keselatan. Dari sini pemandangan berubah menjadi sangat dramatis. Padang rumput, bukit bukit datar, ternak, dan cahaya matahari senja berpadu menjadi lukisan alam yang menakjubkan. Ini dia foto-fotonya :

Selanjutnya Kami sampai didaerah bernama Tanarara. Tanarara adalah tempat sangat luar biasa!. Penasaran? Nanti Tanara ini akan saya buat postingannya tersendiri. hehe…

Matahari semakin bersembunyi di balik bukit coklat Tanarara. Terang kini sudah berganti gelap. Semakin jauh, jalan yang kami lalui semakin rusak dan berkelok kelok. Saya tidak bisa melihat lagi apa yang ada di kiri dan kanan saya. Tidak ada tebing maupun pohon, yang ada hanya kegelapan yang pekat.

“Bagus juga kalau kita jalan malam, sebab kalau siang mungkin kamu akan ketakutan karena disamping kiri dan kanan kita ini adalah jurang”
“Hah?”
“Jalan ini berada di punggung bukit. Jalannya sempit, kiri kanannya adalah jurang, sudah banyak truck truck yang terjerembab kedalam jurang ini”
Saya cuma bisa menelan ludah dan berdoa jangan sampai terjadi hal hal yang tidak kami inginkan.

Ternyata doa saya tidak dikabulkan. Salah satu ban motor kami kempes akibat medan yang sulit dan beban yang berat. Untungnya beberapa kilometer dari kempesnya ban, kami menemukan bengkel. Ajaib banget, ada bengkel ditengah tengah kegelapan malam di negeri antah berantah dan masih buka!. Tidak banyak percakapan saat mereka memperbaiki ban kami. Sunyi, senyap, hanya sesekali terdengar suara2 hewan yang tidak saya kenali.

Saya memandang ke langit. Malam itu cerah sekali, bintang bintang bertaburan dan membentuk garis terang yang dikenal sebagai Milky Way, (Galaxy Bimasakti). Saya sudah tidak ingat lagi kapan terakhir saya melihat Milky Way sejelas dan seindah ini. Sambil menunggu ban selesai diperbaiki, saya mengeluarkan kamera saya dan mencoba belajar memotret Milky Way. Ini dia hasilnya…. Not bad kan? tapi percayalah aslinya jauh lebih bagus lagi.

Hampir satu jam kami menunggu dalam gelap dan dingin, akhirnya ban motornya selesai diperbaiki. Katanya bayarnya seikhlasnya aja, jadi kami beri 30rb rupiah. Perjalanan kami lanjutkan dengan menembus kegelapan malam, satu satunya penanda bahwa kami sudah dekat dengan perumahan penduduk adalah lampu di tower BTS Telkomsel. Seperti mendapat minuman segar setelah seharian tidak minum, itulah perasaan kami saat melihat tower BTS kampung Tanarara dan Kananggar. Ada rasa lega di dalam dada.

Jalan dari Tanarara sampai ke Kanaggar sungguh “luar biasa”. Beberapa kali kami terpeleset bahkan jatuh karena medannya yang menanjak dan penuh kerikil. Dari kananggar, perjalanan semakin “menantang” dan terasa masih sangat jauh.Lelah, letih, ngantuk, lapar,haus semua campur aduk menjadi satu. Ada rasa putus asa didalam hati kami karena perjalanan panjang ini terasa tidak ada akhir. Beberapa saat berlalu, Bentang alam mulai berubah, kini disamping kiri kanan jalan diapit oleh pepohonan besar dan semak semak. Namun tower BTS Ngonggi yang kami nanti nanti tidak tampak sama sekali. Ingin rasanya berhenti, duduk dan berteriak sekuat tenaga.

Menjelang tengah malam akhirnya kami sampai juga di Ngonggi, tepatnya di Puskesmas Ngonggi. Saya langsung tidur tiduran selonjoran di kursi depan Puskesmas. Ada rasa lega tapi kapok karena nanti pulangnya akan merasakan hal yang sama lagi. Kami numpang istirahat di Rumah Dinas Dokter Puskesmas Ngonggi. Mandi, makan mie, ngobrol ngobrol sebentar, kemudian tidur dan mengakhiri hari yang sangat melelahkan ini.

Esok paginya, kami terbangun dengan badan pegal pegal. Perjalanan belum selesai, dari Ngonggi kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Katundu yang berjarak 45 menit perjalanan. Jalannya yassalam, penuh lubang dan kerikil. Bahkan kami harus melewati sungai. Untungnya saat itu sedang tidak musim hujan sehingga sungai sungai tersebut kering dan bisa kami lalui.

Di Pantai Katundu, kami menunggu jemputan dari Ambulans air dari pulau Salura. Sambil menunggu, kami berkeliaran disekitar pantai Katundu. Pantai ini lumayan bagus, terutama di saat air sedang naik. ini dia foto Pantai katundu ;

Ambulans air yang kami tunggu tunggu akhirnya datang juga. Satu persatu barang bawaan kami naikkan kedalam ambulans air. Saatnya berlayar menuju Samudra Hindia!!. Ombak Samudra Hindia ini terkenal sangat besar. Biasanya nelayan menghindari ombak besar tersebut dengan berangkat pagi pagi sekali. Saat itu masih pagi (sekitar pukul 9) namun ombak sudah mulai meninggi. Ada rasa was was juga takut kenapa kenapa. Awalnya kami berencana menuju pulau Mangudu, sebuah pulau kecil tidak berpenghuni yang tidak jauh dari Salura, namun niat tersebut terpaksa kami urungkan sebab ombak yang terus meninggi.

Sekitar 45 menitan, akhirnya kami sampai juga di Pulau Salura. Wohoo!!! Indah banget; laut hijau, pasir putih, bukit bukit coklat, dan perahu perahu tradisional nelayan menyambut kedatangan kami. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan panjang terasa terbayar setelah melihat semua keindahan pulau ini. Tidak percaya? ini dia foto foto sebagian dari Salura.

Dipostingan berikutnya kami akan lanjutkan cerita cerita mengenai pulau salura, masyarakat dan budayanya… Penasaran? Tunggu aja *kedip

23 thoughts on “Hampir Putus Asa ke Salura

  1. Kuereeeennnn bang…. Foto di awal kaya gambar ciamik di Afrika, terus gugusan gunung di akhir kaya di Flores, bener-bener ajaib.
    Ahhh aku “belum resmi” ke Sumba karena belum ke Salura hiks…
    Ditunggu cerita tentang Tanarara nya bang😉

  2. Ikut deg deg’an, padahal baru baca doang, belum terlibat.
    Serem ya, galon BBmnya bocor, untung gak sampe kebakaran. Berbahaya.
    Masih ada lanjutannya?

  3. halo salam kenal. saya akan mengunjungi sumba agustus ini. saya pengen banget liat jalan dengan pohon kering di kanan kirinya. boleh info ga jalan yang kaya gitu di daerah mana di sumba? saya sering liat gambarnya di google dan salah satunya di foto artikel ini. makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s