TRANSFLORES Day 6: Bajawa

Pukul 6 pagi, travel udah datang menjemput kami. Travelnya emang berangkat jam segini. Ada bus yang agak siangan dikit, tp penumpangnya macam2, ada ternak dan barang2๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€ Bagus juga berangkatnya cepat, jadi bisa lebih cepat juga nyampe di Bajawa. Karena kami cuma berencana menginap semalam disana.

Riung – Bajawa sebenarnya dekat, “cuma” 76 kilometer. Tapi jalannya lumayan aduhai. 76 kilometer itu butuh waktu 3 jam. Masih capek seharian kemaren mengitari pulau2 kecil di Riung, saya memilih tidur. Sekitar jam 9 pagi, kami sampai di Bajawa. Langsung check in di hotel Virgo, sangat populer di kalangan traveler, tarok barang dan istirahat sebentar. Kami minta dicarikan motor sama pemilik hotel. Sambil nunggu, sarapan dulu di dekat hotel.

Setelah dapat motor, kami mulai berkeliling kota. Kota Bajawa tidak besar, terletak di lembah dan udaranya super dingin. Penduduknya juga tidak padat. Terasa cukup nyaman. Kami segera menuju kampung adat Bena, sekitar 30 menit dari pusat kota.

Dalam perjalanan ke kampung Bena, kami mampir sebentar di kaki gunung Inerie. Gunung ini unik, cuma ditumbuhi padang rumput dan pepohonan pinus yang gak terlalu lebat. Bagian puncaknya plontos. Gunung ini punggungnya curam. Kayaknya susah didaki.

Gak lama kemudian kami sampai di kampung Bena. Letaknya di pinggir jalan raya. Segera kami melapor di pos penjagaan, lalu masuk ke kampung. Jangan bayangkan perkampungan dengan ratusan rumah dan jalan2 setapak. Kampung tradisional ini hanya berada di satu area kecil, dimana rumah2 berada di pinggir, berbentuk elips, di tengah2nya halaman kosong, hanya ada tugu2 batu dan kuburan. Hanya ada sekitar 40an rumah di kampung ini.

Yang unik, kampung ini bertingkat. Makin ke ujung makin tinggi. Jumlah penduduknya juga sedikit. Hanya terlihat beberapa ibu2 lagi menenun, sebagian menjemur hasil kebun di tengah2 halaman. Kain tenunnya bagus, warnanya bervariasi. Kami cuma liat2, gak beli๐Ÿ˜€ @BangArdin paling kegirangan kalo udah liat kampung tradisional dengan benda2 kuno kayak gini. Sibuklah dia jepret sana sini keliling kampung.

Kami beristirahat di ujung kampung. Disana ada tempat duduk yang ada atapnya, berada di pinggir tebing (jurang, sebenarnya). Udaranya sejuk banget. Di bawah sana, keliatan beberapa kampung tradisional lainnya. Duh, letaknya bener2 ajib, di tengah2 hutan, trus ada yang di punggung gunung juga. Jauh banget. Kata penduduk disini, kesana harus jalan kaki dulu beberapa jam. Fiuhhh

Kami melanjutkan perjalanan ke arah bawah, menuju kampung Gurusina. Yang ini gak terlalu jauh dari Bena, masih berada di sekitar pemukiman penduduk. Kurang lebih 20 menit kemudian kami sampai di kampung Gurusina. Kampung yang ini sudah “dikepung” perkampungan modern. Areanya berbentuk persegi, bukan lonjong seperti Bena. Kampung ini juga bertingkat, tapi makin ke ujung makin rendah. Setelah melapor dan mengisi buku tamu (plus sumbangan), kami berfoto2 di sana. Hampir sama dengan Bena, tengahnya juga kosong, cuma ada tugu2 dan kubur2 batu.

Kami kembali ke arah kota. Tujuan berikutnya yaitu panorama Manulalu, gak terlalu jauh juga di atas kampung Bena. Panorama ini berada di punggung sebuah bukit. Dari sini keliatan jelas semua perkampungan2 tradisional. Letaknya emang berjauhan dan terpencil. Dari sini gunung Inerie keliatan indah. Kami beristirahat sebentar disini, duduk2 menikmati angin sepoi2 yang adem.

Ternyata udah hampir jam 2 siang. Perut udah lapar. Kami kembali ke kota. Di sepanjang jalan, banyak banget bunga2 liar yang indah. Pulau ini memang sesuai sama namanya, Flores. Bunga2 liar tumbuh di sepanjang jalan. Di pekarangan rumah penduduk apalagi.

Tiba di kota, kami makan siang di dekat hotel. Masih ada beberapa jam lagi. Tadi janjinya ngembaliin motor jam 6. Selesai makan, kami mencoba ke kawah Wawo Muda, gak terlalu jauh dari pusat kota. Tapi sayang sekali, udah capek2 kesana, naik motor melewati jalan setapak di punggung bukit, udah hampir sampai di puncak, dikasih tau sama penduduk lokal kalo kawahnya lagi kering. Yahhh… Daripada gak ada hasil, kami ngambil foto2 kota dari atas, plus gunung Ebulobo yang kata @BangArdin mirip gunung Fuji. Gunung ini ada di dekat perbatasan kabupaten Ngada dan Ende.

Kami kembali ke penginapan, balikin motor trus istirahat. Mulai gelap, udara Bajawa makin dingin. Semua orang pake jaket. Pantesan jam 7 toko2 udah pada tutup. Dingin gini bikin orang malas keluar. Untungnya warung bakso jawa masih buka. Dingin2 makan yang panas berkuah emang maknyusss. Besok udah siap2 pindah kota lagi. Selamat malam kota Bajawa yang dingin berkabut..

Pengeluaran Hari 6:
Sewa kamar di Nirvana Bungalow (2 malam) 2x175rb : Rp 350.000
Travel Riung – Bajawa 2x40rb : Rp 80.000
Sewa motor : Rp 70.000
TOTAL : Rp 500.000

17 thoughts on “TRANSFLORES Day 6: Bajawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s