Sumba, the Hidden Paradise

Setahun “terdampar” di Pulau Sumba, NTT, ternyata memberikan berkah yang luar biasa. Terdampar? Ya. Sebetulnya saya tidak memilih untuk ditempatkan bekerja disini. Pilihan ketiga yang membuat saya terdampar disini. Pilihan ketiga itu adalah sebuah istilah dalam penerimaan Dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) Pusat yang bersedia untuk ditugaskan dimana saja di seluruh Indonesia.

Peta Sumba ( Sumber)

Berangkat dari daerah asal saya di Pekanbaru, sama sekali tak terpikirkan sebelumnya bahwa ternyata Pulau Sumba itu benar-benar sebuah hidden paradise. Ditambah lagi ketika dalam perjalan dari Jakarta menuju Kupang, ketika melewati pulau Sumba, yang terlihat adalah sebuah pulau berwarna coklat yang terkesan sangat gersang. Tidak terlihat tumpukan pemukiman besar. Saya berpikir, apa yang dapat saya lakukan untuk menghabiskan waktu selama satu tahun disana kelak.

Sumba bagian timur ( dari atas)

Setelah orientasi selama tiga hari di Kupang, saya beserta tujuh orang dokter lainnya yang akan bertugas di Kabupaten Sumba Timur pun berangkat menuju Waingapu, ibukota kabupaten Sumba Timur. Sempat dapat info di Kupang bahwa Waingapu itu adalah salah satu kota besar di NTT, membuat saya sedikit lega. Menjelang mendarat di Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, saya langsung kaget melihat pemandangan di bawah. Perbukitan dengan hamparan sabana luas yang begitu indah, dibelah oleh jalan raya yang luasnya tidak terlalu lebar, membuat saya langsung bersemangat.

Landasan Pacu Bandara Umbu Mehang Kunda

Di bandara, kami sudah ditunggu oleh Kak Seto, yang selalu rutin menjemput rombongan dokter PTT baru. Alhamdulillah, di Waingapu dokter PTT punya mess, jadi tidak perlu pusing lagi memikirkan tempat tinggal. Sorenya kami langsung jalan-jalan melihat suasana kota. Ternyata benar, Waingapu lumayan besar. Suasananya cukup menyenangkan, walaupun belum ada mal atau pusat perbelanjaan. Cuma ada toko-toko dan pasar tradisional. Di sore hari, Taman Kota merupakan tempat yang menyenangkan untuk bersantai. Duduk-duduk di bawah pepohonan yang sejuk sambil menikmati jajanan disana. Ada mie ayam, soto, bakso, sate, jagung bakar, es kelapa muda, sop buah dan masih banyak lagi. A little piece of heaven.

Mess dokter radamata

Kami menjalani orientasi selama satu bulan di Waingapu, sebelum ditempatkan di Puskesmas di kecamatan. Saya ditugaskan di Puskesmas Tanaraing di Kecamatan Rindi, daerah paling timur di pulau Sumba. Jarak Waingapu-Tanaraing kira-kira 85 km. Jalan raya berada di pesisir pantai, di sisi sebelahnya yaitu perbukitan dengan sabana yang indah. Pemandangan yang benar-benar menyejukkan mata.

jalan raya waingapu tanaraing

Jalan Raya Waingapu Tanaraing

jalan raya waingapu – tanaraing

Saya beruntung kebagian daerah ini, dengan akses yang gampang menuju kota, tersedia sumber air bersih, listrik 24 jam dan ada sinyal telkomsel. Dan dimulailah petualangan saya di pulau Sumba, a hidden paradise.

puskesmas tanaraing

rumah dinas ku

6 thoughts on “Sumba, the Hidden Paradise

  1. Seingatku, dirimu tugas PTT di Papua Barat, waktu baca posting yg Papua itu. Ternyata di Sumba juga?
    NTT dan Papua emang surga tersembunyi. Banyak spot terpencil yang belum terkenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s