Trip ke Teluk Kiluan bagian 1

Teluk Kiluan adalah sebuah objek wisata yang berada di Kabupaten Tanggamus Propinsi Lampung. Keistimewaan Teluk Kiluan terdapat pada pantainya yang putih bersih, lautnya yang biru dan taman lautnya yang belum terjamah tangan tangan Jahil manusia. Selain itu, Teluk Kiluan adalah tempat bermigrasi dan berkumpulnya Lumba Lumba jenis hidung botol, sehingga disini kita bisa melihat puluhan lumba lumba di habitat aslinya dari dekat.

Teluk Kiluan

Teluk Kiluan mulai sering terdengar gaungnya akhir akhir ini dikalangan para backpaker. Semakin hari semakin banyak  orang yang mengunjungi Teluk Kiluan, terutama mereka yang berasal dari luar Lampung. Iya, teluk kiluan memang lebih terkenal diluar daripada di Lampung sendiri. Tidak heran banyak orang yang dilampung tidak tau dimana Teluk Kiluan itu, termasuk saya.  Sebagai orang yang pernah tinggal cukup lama di lampung, saya merasa malu karena belum pernah menginjakkan kaki disana.  Karena itulah akhirnya sayapun memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Teluk Kiluan.

Lokasi tepatnya Teluk Kiluan adalah di desa (pekon) Teluk Kiluan, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, kurang lebih berjarak 80 kilometer dari Kota Bandar Lampung. Untuk menuju Kiluan, tentunya harus ke Kota Bandar Lampung dulu. Kalau dari jakarta menuju bandar lampung bisa menggunakan pesawat terbang Jakarta – Lampung, atau menyebrang menggunakan kapal feri dengan rute  Jakarta – Naik Bis ke Merak – (menyebrang dengan kalap Feri) – Bakauheni  – Naik bis/travel ke Bandar Lampung.

Perjalanan dari Bandar lampung menuju Teluk kiluan memakan waktu kurang lebih 2-3 jam. Kondisi jalan sebagian bagus sebagian lagi rusak parah terutama saat mendekati Teluk Kiluan. Sayangnya tidak ada angkutan umum kesana. Jangankan angkutan umum, orang ditanya Kiluan aja belum tentu tau. Jadi lebih baik menyewa motor atau nebeng kalau kebetulan ada teman di lampung.  Arah jalannya adalah searah menuju ke padang cermin.

Pagi pagi sekali saya sudah berangkat, bensin dan isi perut jangan lupa diisi sampai penuh karena perjalanan akan terasa cukup panjang. Dalam perjalanan ke arah Padang Cermin nanti akan melewati beberapa pantai seperti Pantai Mutun dan pantai Klara. Kalau ingin tau pantainya seperti apa bisa di intip di postinganku sebelumnya, disini.. Kalaupun mampir, jangan mampir lama lama disana karena perjalanan masih jauh dan matahari akan semakin panas.

Markas TNI AL

Setelah melewati Pantai Klara, barulah saya masuk ke kawasan markas TNI AL. Saat memasuki persimpangan di Pangkalan TNI AL, ambil jalur yang sebelah kiri menuju pangkalan AL/ bumi marinir atau Punduh Pedada. Jangan berbelok kekanan karena itu jalan menuju Kedondong. Dari sana, jalan terus melewati jalan tanah sampai disuatu pasar yang namanya Pasar Bawang. Dipersimpangan pasar Bawang ambil jalan yang sebelah kanan sampai dipersimpangan terakhir. Nanti akan kelihatan gapura Teluk Kiluan dan jalan kecil disebelah kiri yang menurun Tajam. Nah itulah dia jalan menuju Teluk Kiluan.

Jalan menuju Kiluan

Setelah menuruni turunan tajam tesebut, akan tampak perkampungan dan rumah rumah orang bali. Di Kiluan memang banyak orang bali jadi jangan heran akan banyak gapura gapura dan pura khas bali disini. Setelah melewati perkampungan, akhirnya saya sampai juga di Teluk Kiluan.

Turunan Tajam dan curam

Apa menariknya Teluk Kiluan? Ayok kita liat yokk..

Pada saat datang terus terang sangat kecewa sekali melihat pemandangan yang saya lihat di Teluk Kiluan. Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan yang saya lihat Cuma pantai pantai biasa dengan batu batu kerikil dan karang yang tersebar di tepi pantai. Mana pantai berpasir putihnya? Mana pemandangan indah yang saya lihat seperti di foto foto? Apakah bukan disini tempatnya?

Saya terus menyusuri jalan semen yang dibuat sepanjang Teluk Kiluan, namun pantai berpasir putihnya tidak saya temukan juga. Sebenarnya pemandangan di teluk ini cukup bagus juga, dengan air yang tenang berlatar belakang bukit. Namun bukan itu yang saya bayangkan, atau mungkin saya terlalu berekpektasi berlebihan?

Teluk Kiluan

Waktu saya datang, Teluk Kiluan sepi sekali, tidak ada orang orang yang bisa ditanyai. Akhirnya saya putuskan untuk jalan terus menyusuri tepi Teluk. Walaupun jalan semen sudah habis, saya tetap menelusuri jalan setapak yang ada. Namun jalan setapak tersebut cukup curam, kalau terjatuh kepala bisa bocor tehempas batu batu karang dibawah. Ternyata Jalan setapak itu mengarah kesebuah pantai yang cukup bagus. Pasirnya lumayan putih dengan air yang jernih dan ombak kecil. Didepannya terdapat pulau kecil berpasir putih ntah apa namanya.

Pantai tersembunyi dan Perahu Jukung

Hari semakin siang, saya kembali ke sekitar rumah penduduk. Disinilah akhirnya saya bertemu dengan penduduk lokal. Mereka mengatakan bahwa memang tempat yang biasa dikunjungi wisatawan untuk menginap dan menghabiskan waktu adalah di Pulau Kelapa yang ada di seberang, bukan disini. Rupanya pulau kecil yang saya lihat itu adalah Pulau Kelapa. Untuk menyebrang ke Pulau Kelapa bisa menggunakan Perahu Jukung (perahu tradisional masyarakat Kiluan) kurang lebih selama 15 menit, dengan ongkos 15000 sudah termasuk tiket masuk pulau. Bila membawa motor bisa dititipkan kerumah penduduk setempat. Dijamin aman kok…

Selain menawarkan penyebarangan menuju Pulau Kelapa, Mereka juga menawarkan saya untuk melihat lumba lumba hidung botol. Biayanya cukup mahal, sebesar 250 ribu per kapal jukung. Awalnya saya tidak mau karena saya khawatir kalau lumba lumba itu tidak akan muncul kalau siang hari, karena biasanya mereka muncul pagi2.  Namun mereka meyakinkan saya bahwa si Lumba luma itu masih ada. Jadi sekali jalan, dari habis melihat lumba lumba langsung ke Pulau Kelapa. Akhirnya saya nurut juga. Yang akhirnya nti saya sadari adalah itu adalah keputusan yang salah.

Pemandangan Teluk Kiluan dari perahu Jukung

Perahu jukung itu adalah perahu kecil, hanya muat 2-3 orang satu kapal, lebarnya pas pasan buat duduk. Dikiri kanan ada penyeimbang biar perahu tidak oleng terkena ombak. Saya berangkat menuju tempat lumba lumba hampir jam 1 siang. Panas sekali, awalnya memang tidak terasa tapi makin lama semakin ketengah laut rasanya semakin tambah panas. Selain itu semakin ketengah ternyata ombak semakin tinggi, sementara saya tidak dibekali dengan life vest!.

Siang bolong di tengah laut, tanpa pelampung!

Waktu terus berlalu, 30 menit, 60 menit sudah berlalu tapi saya sama sekali tidak melihat lumba lumba satupun. Perahu Jukung terus melaju ke tengah Lautan, semakin kesana semakin panas cuacanya (dan panas hati juga) serta makin besar pula ombak. Ini menjadi catatan buat saya dan mungkin buat yang lain juga bahwa jangan pernah pergi melihat lumba lumba di teluk kiluan pada saat SIANG HARI!. Selain Panas, ombak besar, tidak ada pelampung, juga lumba lumbanya enggan keluar. Sial banget.

Satu setengah jam sudah berlalu, saya sudah berada ditengah lautan lepas, tapi tak muncul juga hidung botolnya si lumba lumba. Sampai akhirnya muncul sirip ditengah lautan, ada 1, eh 2 sirip. Ukurannya cukup besar. Pada badannya tampak belang belang putih seperti habis terkena sesuatu.  Ternyata makhluk yang saya kira lumba lumba adalah Paus. Lumba lumba dicari Paus didapat. Itu artinya saya sudah terlalu jauh berada di tengah lautan. Serem juga ntar pausnya nabrak gimana?. Saya perintahkan pengemudi jukungnya untuk kembali kedaratan dan kembali lagi berburu lumba lumba ke esokan paginya, tapi dia diam aja. Malah membawa si kapal jukung ntah kemana.

Yang muncul malah paus

Untungnya 30 menit kemudian lumba lumba yang dicari itu muncul juga. Muka yang tadinya udah masam kembali ceria. Dari kejauhan tampak lumba lumba melompat dan berenang bergerombol menggoda kami. Tidak hanya 1kelompok, tapi ada puluhan mungkin. Hilang 1 kelompok lumba lumba, muncul kelompok lain ditempat lain.

Lumba lumba

Segera saya siapkan kamera untuk menagkap aksi sang lumba lumba namun ternyata sulit juga mendapatkan moment yang pas. Lumba lumba ini ternyata tidak ada malu malunya, bukannya menjauh malah sebagian dari mereka malah asik berenang dipinggir jukung.

Lumba lumba

Akhirnya setelah 15 menit melihat atraksi si lumba lumba yang tidak ada abisnya, saya putuskan untuk kembali kedaratan karena hari sudah menjelang sore. Karena tadi sudah jauh sekali ke tengah lautan, maka perjalanan kedaratanya pun lama sekali, sampai sampai 1 jam lebih.

Jam 17.30 akhirnya kami sampai juga di Pulau Kelapa.

2 thoughts on “Trip ke Teluk Kiluan bagian 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s