Nostalgia di Wajo

Dari Rantepao, Tanah Toraja, saya lanjutkan perjalanan saya menuju Wajo. Wajo adalah salah satu kabupaten yang berada di Sulawesi selatan, dengan Sengkang sebagai ibukota Kabupaten. Mayoritas penduduk disini adalah orang bugis wajo. Untuk menuju wajo, dari jalur lintas barat sulsel berhentilah di Pare Pare, kemudian lanjutkan perjalanan dengan mobil / travel ke arah timur menuju Kabupaten Sidrap dan Wajo.  Mobil travel ini memang tidak ada tulisan merek dan trayeknya jadi harus ditanya dulu kalau mau naik supaya tidak salah jalan. Tidak seperti daerah Toraja yang berbukit bukit, Landscape daerah Sidrap dan Wajo cenderung datar. Tidak ada bukit, gunung, yang terlihat hanya hamparan padi yang luas. Disepanjang kiri kanan jalan banyak rumah rumah panggung khas orang bugis.

Hamparan padi dan danau di Wajo

 Objek wisata alam di Wajo sebenarnya cukup banyak, di antaranya adalah Danau Tempe, dan kawasan wisata bendungan dan perburuan rusa Kalola. Namun tujuan utama saya ke Wajo sebenarnya bukanlah untuk berwisata namun untuk bernostalgia. Loh kok bernostalgia? Iya karena Wajo adalah tempat nenek moyang saya berasal. Walaupun saya kelahiran Sumatra namun orang tua, nenek, ibu nenek berasal dari Wajo. Di Wajo saya menginap di rumah saudara di kampung rrr….. saya lupa namanya, kalau tidak salah namanya adalah Anabanua.

Salah satu rumah di Wajo

 Pagi pagi saya sudah bangun dan menikmati sarapan khas bugis yang sudah lama tidak saya rasakan sejak saya pergi merantau. Sebenarnya simple saja makanannya, yaitu kue apam kelapa, kue yang dibungkus daun pisang (lupa namanya) dan yang paling saya suka adalah Fau dan Sokko, alias Mangga dan Ketan. Rasanya nikmat sekali makan ketan dicampur dengan mangga.

Sarapan

 Hari itu saya berencana ke Sengkang untuk sekedar jalan jalan. Ke Sengkang cukup menggunakan mobil angkot saja menuju terminal Callacu di Sengkang.  Dalam perjalanan saya melewati kawasan perburuan rusa Kalola dan wisata bendungannya, pingin sekali rasanya kesana namun saya tangguhkan karena waktu yang tidak cukup. Sesekali tampak pula danau tempe dari balik rumah rumah penduduk.

Salah satu sudut kota Sengkang

 Di sengkang saya mampir ke pasarnya untuk melihat kain kain sutra khas Wajo. Wajo memang sangat terkenal sekali dengan kain sutranya, jadi sayang sekali kalau ke Wajo tidak membawa oleh oleh kain Sutra khas Wajo. Kain sutra dan sarung ini (Lipa sabbe) biasanya di pakai kalau ada acara adat seperti pernikahan dll. Karena tidak bisa dicuci, jadi pakainya cukup sesekali saja ya…

Setelah puas mengelilingi Sengkang saya putuskan untuk kembali ke Makassar..

One thought on “Nostalgia di Wajo

  1. Ohw, kamu punya keturunan Bugis juga yah bang.
    Saya juga orang bugis, tapi kampung saya di SIDRAP.

    Saya dulu punya teman kuliah, orang Wajo tepatnya di Belawa tinggal bersama neneknya tapi orang tuanya merantau ke Jambi. Mungkin saja kamu punya hubungan keluarga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s