Menantang laut selatan Papua Barat

Beberapa hari menjelang Tahun Baru, Kampung Tarof terasa sangat sepi sekali. Hanya terlihat beberapa warga kampung dan anak-anak sesekali lewat didepan Rumah dinasku.  Setelah acara besar Natal Imeko, masyarakat sebagian besar berlomba ke Teminabuan dan sebagian berlomba kembali kekampung masing-masing .

Ingin sekali rasanya ke Teminabuan. Berkumpul bersama teman-teman untuk melihat meriahnya Tahun Baru. Sayangnya transportasi umum dari Tarof menuju Temi tidak ada sama sekali. Sekali terjebak di Tarof maka akan sulit sekali untuk keluar. Dan begitulah keadaanku saat itu, terjebak dikampung yang tidak ada sinyal, listrik, dan sulit air bersih. Hal itu dipersulit dengan dicurinya Bama (Bahan makanan) yang sudah disiapkan untuk menyambung hidup beberapa hari dikampung yang terisolir ini. Yang tersisa hanyalah ikan asin dan beberapa bungkus mie.  Kombinasi makananan ikan asin dan mie setiap hari tentulah bukan ide bagus, apalagi jelas jelas anda adalah petugas kesehatan.  Memprihatinkan memang melihat tingkah laku sebagian masyarakat yang seharusnya melindungi  tenaga pengajar, tenaga kesehatan, akan tetapi malah berbuat tindakan tidak terpuji yang membuat mereka para pendatang semakin tidak betah.  Dibalik itu semua, ternyata masih ada teman-teman  bidan, perawat, ustad dan beberapa pekerja proyek yang bahu membahu dan tolong menolong atas dasar kesamaan nasib.

Beberapa hari mencari informasi apakah ada penduduk lokal yang akan naik ke Temi tapi hasilnya sia-sia. Mereka cuma mau ke temi dengan catatan harus membayar uang sewa Longboat, BBM dan Motoris yang nilainya totalnya diatas 1 juta, dan itupun belum tentu jalan karena semua Motoris sedang berada di Temi. Sampai akhirnya kami mendapat kabar bahwa pekerja proyek jembatan Tarof akan ke Sorong beberapa hari lagi. Memamng tujuan awalku mau ke Temi, tapi ke Sorong malah lebih bagus. Tidak mau membuang kesempatan, kami setiap hari berjalan beberapa kilo menuju lokasi proyek untuk menanyakan kapan kapal akan diberangkatkan, namun mereka juga tidak bisa memberikan kepastian keberangkatan karena tergantung pada pasang surutnya laut. Tiap hari kami harus memantau karena mereka bs berangkat kapan saja, bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya karena memang jarak cukup jauh dan tidak ada sarana komunikasi.  Hari itu, hampir saja kami ditinggalkan, untung saja bisa datang tepat waktu. Akhirnya siang itu kami ada dikapal juga dan bersiap siap meninggalkan Tarof menuju Sorong.

Kapal yang kami tumpangi

Kapal yang kami tumpangi adalah kapal nelayan biasa, biasanya digunakan untuk mengangkut kayu-kayu dan semen. Tapi kali ini kondisi kapal kosong tanpa muatan. Ada beberapa pekerja kapal yang sudah menempati “pos tidur” masing-masing. Yang tersisa hanyalah digeladak depan bekas tempat semen biasa diletakkan. Ada atapnya dari kayu namun samping kiri kanan depan tidak ada penutupnya. Tidak nyaman memang karena duduk dan tidur dibekas semen yang tebal dan berdebu, tapi apa boleh buat daripada tidak ada sama sekali.

Di bulan desember ini, ombak lebih besar daripada biasanya. Dan memang benar, ombak setinggi 2-3 meter menghadang perjalanan kami.  Tidak adanya muatan dikapal membuat kapal semakin gampang terombang ambing dan terbanting banting seperti mainan.  Sepanjang sore itu saya cuma bisa memeluk erat tiang kapal, dan berdoa didalam hati semoga diberi keselamatan. Cerita tentang tenggelamnya kapal dalam perjalanan dari Kampung Tarof menuju Kampung Kokas setahun lalu yang pernah diceritakan warga Tarof terus terngiang di otak saya.  Semoga saja kejadian yang sama tidak menimpa kapal yang saya tumpangi kali ini.

Ombak yang terus menghantam kapal

Hari semakin sore, matahari sudah mulai tenggelam diantara awan dan horizon lautan yang jauh disana. Pemandangan sunset yang indah itu tidak bisa saya nikmati karena ombak setinggi 2meteran terus terusan menghempas dan mengayun kapal. Bila pernah kedufan, mungkin sensasinya kurang lebih sama dengan naik kora kora tapi terus terusan tiada henti. Menjelang malam, tiba tiba air dari langit tertumpah dengan derasnya.  Buru buru kami menutupi tempat “pos tidur”kami dengan terpal seadanya. Tapi ternyata terpal itu tidak cukup kuat menahan kencangnya terpaan angin dan derasnya hujan malam itu. Air merembes dan bocor kemana2, cepat cepat barang terutama buku saya amankan.

Sang kapten berdiri ditengah hempasan ombak

Malam itu lengkaplah sudah penderitaan kami. Ombak yang terus terusan mengombang ambing kapal, disertai angin hujan petir yang tak henti henti, ditambah pakaian yang hampir basah semua di dalam gelapnya malam benar benar membuat pengalaman malam itu tak akan terlupakan. Beberapa kali saya mendengar teman seperjalan saya memuntahkan semua isi perutnya sampai terkuras habis. Sialnya, mungkin karena buru buru dia mengeluarkan muntahannya ke sebagian makanan yang ada di dalam wadah nasi.

Didalam keadaan seperti inilah baru tersadar betapa kecilnya manusia dihadapan Tuhannya.

Menjelang subuh hujan dan ombak mulai mereda, perut terasa sakit dan lapar tak tertahankan. Saya mencoba memakan bekal yang saya bawa namun untuk menelannya saja rasanya sulit sekali. Saya putuskan untuk tidur saja. Dalam keadaan basah kuyup kedinginan, kelaparan, ternyata saya masih bisa tidur walaupun Cuma beberapa jam.

Pagi sekali saya sudah terbangun, tidak ada lagi ombak, angin kencang dan hujan. Yang saya liat hanya hamparan laut biru yang tenang dan dingin. Saya tidak tau sekarang saya berada dimana tapi saya yakin kapten tidak akan sampai salah jalan. Hehe..  Saya duduk di haluan kapal, mensukuri saya bisa survive menghadapi badai semalam. Tiba-tiba dari samping kapal berlompatan lumba lumba saling kejar mengejar dan seolah ingin menggoda saya. Cepat-cepat saya ambil kamera namun sulit sekali bisa menangkap gerakan mereka.  Kemunculan mereka semoga saja adalah pertanda baik. Matahari terus menanjak naik, sukurlah ombak tidak lagi sebesar kemaren sore, hanya riak – riak kecil yang menabrak kapal. Sisa makanan yang ada sudah habis kami makan, kami benar benar kelaparan.

Lumba lumba yang berenang mengiringi kapal

Lewat siang hari menjelang pertemuan antara Tanjung Sele Seget dan selat antara Sorong dan pulau Salawati, saya melihat ada pusaran air. Saya antara takjub dan takut melihatnya, takjub karena ini adalah pertama kalinya saya melihat pusaran air di laut, dan takut kalau kalau kami bisa terhisap kedalamnya.  Untung aja sang kapten udah tau dan udah biasa menghadapi hal seperti itu. Perjalanan terus dilanjutkan, kami kini melewati selat antara pulau Salawati dan Daratan Sorong. Kondisi lautnya benar-benar tenang, hanya saja langit Nampak mendung dan sesekali terlihat hujan di beberapa titik.

walaupun wajah sudah tak karuan tetep foto narsis tidak ketinggalan

Menjelang medekati kota Sorong, perkampungan sudah mulai tampak sedikit sedikit, dan untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu handphoneku mendapat sinyal lagi. Walaupun Cuma 1 bar, hilang timbul dan eksklusif Telkomsel, tapi sensasi senangnya luar biasa, saya coba kirim sms ke teman teman sebagian ada yang hilang ada juga yang terkirim.  Saat itu hari sudah menjelang magrib, dari kejauhan sudah mulai tampak kerlap kerlip lampu dari kapal yang merapat di Sorong dan lampu dari Gedung dan Jalanan Kota Sorong. Melihat itu hati girang bukan main, mungkin seperti inilah perasaan ketika Alexander Columbus menemukan daratan setelah lama terombang ambing dilaut. Akhirnya perjuangan dan perjalanan  panjang selama 2 hari 1 malam terbayar sudah. Sorong aku kembali…

Sedikit cerita tentang Tahun Baru di Sorong.  Ini adalah Tahun baru terbrutal dan termeriah yang pernah saya temui selama ini, mungkin karena masyarakat sini tidak pelit untuk membelanjakan uangnya untuk kembang api dan petasan. Tidak heran, dari jam 10 malam kembang api dan petasan sudah mulai di nyalakan nonstop tanpa henti, bgitupula petasan yang tidak henti henti berbunyi. Benar benar pesta Tahun Baru.

Suasana meriah dan brutalnya acara Tahun baru di lapangan hockey Kota Sorong.

3 thoughts on “Menantang laut selatan Papua Barat

  1. Seperti itu jugalah rasanya waktu naik longboat dari pulau Tarak ke Fakfak. Longboat beberapa kali miriing seperti mau tenggelam karena diterjang ombak. Saya ndremimil gak habis habis. Serem rasanya.

    Berarti jauh juga ya dari kampung anda ke Sorong, sampai makan waktu seharian.

    • saya juga sudah sering merasakan naik longboat kecil tanpa atap menyusuri pantai2 selatan papua barat… awalnya ngeriii tapi lama lama terbiasa, kalau bisa dipake mancing sekalian haha… jarak tarof ke sorong memang lumayan jauh, apalagi kalau kondisi cuacanya jelek.. ampuuunn

      • Longboat yang pake atap, kalau di Tarak bahannya dari fiber. Baru aja datang. Enteng jadi rentan ngguling kalau kena ombak. Kalau yg dari kayu lebih berat, kena ombak gede aja udah miring miring, ngerasain serem. Tapi supirnya top top, udah tahu kondisi di perairan antara Fakfak – Tarak, jadi udah apal.

        Di airport Fakfak, waktu aku baru datang, banyak orang terkejut setelah tahu aku mau ke Tarak karena ombaknya serem. Tapi begitu tahu kalau aku dijemput orang Tarak, mereka baru senang, karena aman.

        Aku mendapat kesan yang sangat positif tentang Papua, orang orangnya maksudnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s