Perjalanan Menyusuri sungai Kamundan

Pagi sekali sebelum matahari menampakkan dirinya, kami sudah sibuk memuat barang barang ke atas Longboat.  Pagi itu kami akan meninggalkan kampung Tarof, di Distrik Kokoda menuju suatu kampung terisolir di Kokoda Utara yang bernama kampung Atori.  Memang tidak ada jalan lain menuju kampung ini kecuali melalui jalan laut dan sungai. Bila dari Teminabuan, ibukota kabupaten Sorsel,  anda harus menuju Tarof dulu dengan menyusuri pesisir selatan Sorsel selama 6 jam kemudian menuju Atori dengan menyusuri pesisir pantai Teluk Bintuni  dan kemudian masuk menyusuri Sungai Kamundan selama kurang lebih 6 jam perjalanan.

Awan emas dan sunrise di kokoda

Jam 5.00 pagi kami sudah berangkat dari kampung Tarof menggunakan Longboat. Dingin, gelap dan sepi, yang terdengar hanya suara suara hewan liar dan deru mesin Longboat. Tidak lama, cahaya matahari mulai tampak dan rasa dingin dan gelap perlahan sirna. Dilangit awan tampak keemasan di iringi Matahari yang mulai menanjak naik malu malu. Saya sekarang sudah bisa melihat jelas pohon pohon mangrove di sepanjang pesisir pantai dan ratusan burung burung yang berkumpul mencari ikan.

Sesampainya di muara Sungai Kamundan, burung burung putih itu semakin banyak terbang dan berjalan menyusuri pantai. Ikan-ikan pun tidak mau ketinggalan, mereka melompat2 menuju permukaan seolah menantang dan ingin menunjukkan diri.

atas : burung2 yang sedang asik bermain dipinggir pantai. Bawah : ikan -ikan melompat

Perjalanan dilanjutkan dengan memasuki Sungai Kamundan. Sungai Kamundan ini merupakan sungai yang cukup panjang,  masih sangat alami dan liar. Berhulu di kabupaten Manokwari dan bermuara di perbatasan kabupaten Sorong Selatan dan Teluk Bintuni. Diperjalanan memasuki sungai Kamundan tiba tiba kami mendengar suara anjing menyalak dengan keras, tidak berapa lama berselang nampak seekor rusa yang melompat ke dalam Sungai Kamundan, yang kemudian berhasil di tangkap oleh seorang pemburu yang memang sudah bersiap dipinggir sungai untuk menangkap rusa yang sudah terkepung tak berdaya itu. Katanya, begitulah cara tradisional masyarakat di sekitar sini untuk berburu Rusa.

Menangkap Rusa

Panorama sungai Kamundan sungguh menakjubkan, sungainya di hilir relatif tenang dipadu dengan rimbunnya pepohonan di kiri kanan sungai benar benar membuat hati ikut tenang. Kehidupan liar disinipun masih sangat banyak, disepanjang jalan tidak akan pernah sepi dari kelelawar dan burung burung eksotis seperti Kakatua jambul kuning dan sejenis rangkong  yang terbang hilir mudik. Burung burung itu sepertinya tidak mau diam dan terus berteriak memecah kesunyian hutan tropis dikiri kanan sungai Kamundan. Tidak mau kalah, hewan-hewan Primata ikut menyumbangakn suaranya.

Sungai Kamundan

Dipinggiran sungai ternyata masih banyak buaya muara yang tampak asik berjemur dengan mulut menganga lebar. Kabarnya bila sungai Kamundan sedang surut akan lebih banyak lagi buaya yang menampakkan diri. Sepanjang jalan saya asik menghitung buaya-buaya, baik yang besar maupun yang kecil. Ternyata jumlahnya cukup banyak. Mungkin bukan ide yang bagus bila ada yang mau mencoba berenang disini. hehe

Atas : Burung2 berterbangan kesana kemari. Bawah : Buaya berjemur

Tak terasa kami sampai juga di Atori. Memang, menyusuri sungai Kamundan dijamin tidak akan membosankan, banyak hal yang bisa dilihat dan dipelajari.  Disini pula kita bisa menghargai kehidupan liar dan mencintai alam. Bagi yang senang petualangan alam liar , disinilah tempatnya!

Foto narsis di atas longboat🙂

2 thoughts on “Perjalanan Menyusuri sungai Kamundan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s