Papua Barat aku datang

Dari magrib saya sudah menunggu dengan sabar penerbangan menuju Manokwari, Ibukota Provinsi Papua Barat. Malam itu sekitar jam 22.30 WIB saya akan berangkat menuju Papua Barat dalam rangka penugasan saya sebagai dokter PTT di Papua Barat, Tepatnya di Kabupaten Sorong Selatan.

Peta Papua Barat

Deg degan rasanya karena ini lah untuk pertama kalinya saya akan menginjakkan Indonesia Timur, seorang diri pula. Penumpang yang lain nampaknya cukup banyak dan kelihatannya mereka juga adalah para dokter PTT yang akan di kirim ke Papua Barat, terlihat dari barang bawaan mereka yang banyak seperti orang pindahan.  Ada yang bawa bantal, kelambu, beras? Dan banyak lagi barang yang sebenarnya saya yakin dipapua pun ada, Cuma mungkin harganya lebih mahal sedikit.  Sebenarnya rugi bawa barang banyak karena malahan mereka akhirnya harus bayar lebih mahal karena kena kelebihan bagasi. Saya sendiri cuma membawa tas ransel dan koper kecil, karena saya paling malas memberatkan diri dengan membawa barang-barang yang tidak penting.  Pelajaran 1 = Bawa barang seperlunya saja.

Walaupun agak terlambat sedikit, pesawat akhirnya diberangkatkan juga jam 11 malam lebih. Waktu itu perut sudah mulai keroncongan (kebiasaan makan malam), sedangkan yang dibawa Cuma sebotol minuman teh. Untung saja dipesawat dibagikan roti yang tanpa malu saya makan dengan rakusnya. Hehe… Pelajaran 2 = Ternyata makanan, hal yang penting yang jangan sampe lupa harus dibawa.

Sekitar pukul  jam 2 pagi waktu indonesia tengah, pesawat transit dulu di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Saya terkesima melihat bandara ini karena desainnya yang unik, modern, dan bersih.  Saya beri acungan jempol untuk pemerintah sulsel karena mereka berhasil mengesankan saya sebagai tamu di sulsel. Bandara sebagai “teras rumah” suatu negara atau propinsi ataupun daerah seharusnya dibuat seberkesan mungkin.

Suasana di ruang tunggu bandara Sultan Hasanuddin Makasar

Sementara saya asik menikmati bangunan bandara, Teman2 dokter PTT lain nampaknya asik bercengkrama satu sama lain, mungkin mereka satu universitas. Kebetulan temen se universitas saya ga ada jadi terbengonglah saya disudut bandara menunggu di sapa. Bodoh. Pelajaran 3 : Jangan malu-malu berkenalan.

Sekitar jam 3an pesawat baru terbang lagi menuju Manokari, rasa excited, ngantuk dan lapar bercampur aduk menjadi satu.  Menjelang jam 7 pagi waktu indonesia timur kami transit sebentar di Bandara DEO Sorong. Tidak turun, hanya sekedar melihat lihat pemandangan  bandara sorong dibalik jendela pesawat.  Tak berapa lama pesawat kembali diberangkatkan menuju Manokwari yang merupakan ibukota Prov Papua Barat. Dari atas saya sudah bisa melihat landscape hutan, sungai, indahnya pulau-pulau dan birunya laut dan putihnya awan diPapua. Saya excited sekali, sampai tak terasa jam 8an kami sudah sampai di bandara Rendani Manokwari.

Pemandangan dari atas pesawat

Turun dari pesawat, langsung sujud sukur menghirup udara segar nya Manokwari, tidak lupa foto foto juga hehe.. Ditempat pengambilan bagasi, saya terkaget melihat bandaranya yang “sederhana” . Suasana pengambilan bagasi seperti dipasar pasar, barang di banting sana sini. Kalau tidak diperhatikan barang barang bisa tertukar atau malah hilang. Pelajaran 4 : Perhatikan barang saat mengambil bagasi, klo perlu kasi tanda.


Landasan pacu bandara Rendani dengan latar belakang gunung

Barang sudah diambil, pihak dinkespun sudah datang dan sudah menyediakan mobil jemputan serta fasilitas hotel. Saatnya berpetualang di Papua Barat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s