Ilmu penyakit Dalam

Stase Ilmu Penyakit Dalam (Interna) adalah state kedua saya di RSUD tasikmalaya setelah obgyn. Memang di interna jauh lebih santai daripada di obgyn, namun otak harus diperas habis dengan teori-teori dan tugas tugas yang banyak. (28 april 2008 – 5 juli 2008)

Keluhan utama kok berubah?

Ini pengalamanku waktu Bed Side Teaching (BST). Waktu itu saya dapat pasien dengan dugaan Sistemic Lupus Eritematosus. Beberapa hari sebelum Bed Side Teaching saya buat status pasien tersebut dengan lengkap. Waktu itu keluhan utamanya adalah nyeri pada sendi-sendi tangan. Datanglah hari saya BST, disaksikan oleh konsulen, dan teman-teman koas, saya merasa agak gugup juga. Pada saat saya menanyakan keluhan utama, si pasien malah menjawab klo utamanya adalah gatal-gatal padahal sebelumnya dia bilang kalau keluhan utamanya adalah sakit sendi. Langsung keringat dingin mengucur didahi saya. Saya berusaha mengarahkan anamnesanya supaya sesuai dengan status, ternyata pasien itu menjawabnya berbeda dengan yang ada di status. Dokter konsulen mengenyitkan dahi begitu membaca statusnya. Duh sialan nih pasien.. dalam hatiku, teman2 yang lain cuma senyum-senyum melihat aku salah tingkah dan basah karena keringat dingin.

Masalah berat badan

Ini pengalaman lain ketika saya mempresentasikan dan mepertanggungjawabkan status pasien Bed Side Teaching (BST). Waktu saya dapat pasien yang tidak bisa berdiri karena penyakitnya. Sebenarnya setiap pasien harus ditimbang berat badannya karena hasilnya nanti akan dimasukkan ke status untuk menentukan status gizi tersebut. Tapi karena pasien tersebut tidak bisa berdiri, saya karang berat badannya. Tapi ternyata dokter konsulennya tau kalau saya ngarang, habislah saya di omelin habis-habisan. Padahal statusnya sudah saya buat sebaik-baiknya, teorinya sudah saya pahami, tapi karena saya berbohong masalah berat badan akhirnya nilai saya jatuh dan attitude saya jelek di mata konsulen tersebut. Dari itulah saya ambil pelajaran bahwa kejujuran itu mahal harganya.

Status yang selalu salah

Di interna kami disuruh membuat status yang panjang sekali, harus membuat anamnesa yang panjang, pemeriksaan fisik yang lengkap dari ujung kepala sampai ujung kaki, pemeriksaan penunjang sendiri, sampai diagnosa dan pengobatan, kemudian status ini akan di pertanggung jawabkan saat Bed Side Teaching (BST) dan Case Report. Masalahnya adalah belum pernah ada status yang pernah benar, selalu ada yang salah, bahkan sampai akhir stase. Status itu selalu diperbaiki namun setelah diperbaiki pasti selalu ada salahnya, padahal yang mengkoreksi adalah konsulen yang sama, apalagi klo sampai berbeda konsulen.

dr. dendy, dr.dedi, dr.sumpena.. ada 2 lagi tpi ga dipoto, dr. dadan dan dr.suarman

Bahasa sunda yang merakyat

Salah satu kendala terberat yang saya hadapi selama di interna adalah kendala bahasa. Tasikmalaya adalah daerah yang sebagian besar penduduknya selalu menggunakan bahasa sunda halus sebagai bahasa sehari-hari, dan masih banyak pula yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Sedangkan saya sendiri tidak mungkin bisa mempelajari bahasa sunda hanya dalam 1 atau 2 hari. Untungnya dikelompok saya yang ber4 ada yang bisa berbahasa sunda. Jadi tiap kali pasien bicara, dia yang akan menerjemahkan. Pernah suatu saat temanku yg bisa bahasa sunda itu tidak ada, saat itu ada pasien, saya cobalah tanya-tanya sedikit, dan sedikit-sedikit saya bisa mengerti apa yang dimaksud pasien. Tiba-tiba datang keluarga pasien, dia langsung nyambung ngomong sunda ngga jelas… wajahnya begitu bersemangat sekali bercerita yang saya sendiri ngga ngerti.. saya cuma senyum senyum saja.. lama sekali dia bicara sampai saya potong “ohh.. gitu ya pak, saya tinggal dulu ya pak…”.. keluarga pasien itu bengong aja saya tinggal

Didepan mata

Selama jaga IGD dan ruangan di Interna, sering saya menjumpai pasien yang mati didepan saya, padahal saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Waktu itu ada pasien dengan efusi pleura massif, dirawat diruangan, tiba pasien menjadi sesak nafas berat, bibir dan jari2 kebiruan, dan kemudian terjadi henti nafas, langsung saya RJP sambil menelpon dokter jaga, namun akhirnya pasien itu tidak tertolong. Dilain waktu ada pasien datang ke IGD dalam keadaan syok, langsung kami tangani dan tanggulangi syoknya, pasien itu kami pantau dari menit kemenit, namun tidak ada perbaikan. Seharian kami para koas disamping pasien tersebut, dari pagi sampai malam, namun pasien tersebut tidak dapat tertolong. Masih banyak lagi kasus-kasus lain yang tidak tertolong. Hal tersebut menjadi bahan renungan saya, apakah kami yang salah dalam penanganan, atau memang sudah tidak mungkin lagi ditolong? Tapi satu yang pasti, memang manusia bisa berusaha tapi tetap tuhan yang menentukan.

nih waktu jaga IGD di interna.. pasiennana seeur teuing… pasiennya banyak.. selama di interna jarang foto2 euy.. karna u knowlah.. interna kan sibuk mikir…

Perkusi = terapi?
Ini pengalaman pada saat follow up pasien setiap hari. Waktu itu tiap pagi, setiap pasien harus di follow up, tidak hanya keluhan dan tanda vital, tapi juga pemeriksaan fisiknya. Oleh karena itu, setiap hari pasien itu harus dengan rela diperiksa, di raba-raba, di perkusi alias diketok-ketok. Nah.. mungkin karena keseringan di perkusi, seorang pasien protes dan bertanya “ dok kok tiap hari saya di ketok-ketok terus ya? Ini terapinya ya dok”.. spontan saya senyum lebar.. kemudian saya jelaskan panjang lebar. Padahalkan kan justru klo kebanyakan diperkusi bisa sakit, apalagi klo perkusinya pake palu (hwehehehe… ya iayalah).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s