Mendaki Gunung Betung

Pagi itu saya dan beberapa teman saya diundang oleh dekan fakultas kami, prof Wahyu untuk mengikuti acara makan makan dikaki gunung Betung. Kebetulan beliau punya empang disana, Jadi kami nanti bisa mancing sepuas-puasnya. Perjalanan dari kota Bandar Lampung ke Gunung Betung tidak begitu jauh, cukup 30 menit kami sudah sampai disana.
Jauh dari perkiraan, sesampainya kami disana, kami tidak diajak oleh prof untuk memancing, beliau justru mengajak kami untuk mendaki gunung Betung.  Semuanya mengiyakan, padahal jelas-jelas kami tidak ada persiapan untuk mendaki. Dekan kami itu umurnya sudah tidak bisa dibilang muda lagi, namun kalau masalah semangat, bisa mengalahkan yang muda. Dengan dipimpin oleh beliau kami bersiap-siap untuk mendaki gunung Betung.

sawah

Pada awal perjalanan, di kaki gunung Betung, kami melewati sawah-sawah yang menghampar luas, begitu sejuk dan dingin. Kami lewat jalan setapak di antara sawah-sawah, beberapa temanku ada yang terpeleset karena licin. Setelah itu jalan mulai menanjak, kami sampai pada daerah perkebunan karet. Dikiri kanan terlihat pohon karet yang tersusun rapi, sesekali kami berpapasan dengan penduduk setempat yang sedang mengambil karet dan mengambil kayu bakar. Setelah melewati kebun karet, jalan yang kami lalui terasa semakin menanjak, dengan susah payah kami menanjak jalan setapak yang licin. Sesekali terdengar suara primata dan suara kicauan burung yang sahut menyahut. Alami sekali.

istirahat

Sepanjang perjalanan menanjak, semakin lama semakin sedikit kami jumpai rumah penduduk, jalan yang kami lalui semakin sempit dan licin. Prof Wahyu memimpin perjalanan kami didepan, beliau masih dengan penuh semangat, sedangkan kami sudah terengah-engah karena kecapekan. Kami sudah tertinggal jauh dari beliau. Saya sebagai generasi muda merasa malu karena tidak sekuat beliau hehe… Sesekali kami berhenti beristirahat dan makan cemilan-cemilan yang kebetulan tadi kami bawa dari rumah. Perut sudah lapar dan sudah tidak bisa kompromi!. Kami kemudian melanjutkan perjalanan, disepanjang jalan kami sering menjumpai pohon coklat yang sedang berbuah. Kami ambil yang sudah jatuh dan menyantapnya dengan lahap.

betung

Perjalanan semakin jauh. Kaki kami sudah terasa mau lepas. Saya bahkan sudah tidak bisa merasakan kaki-kaki saya menginjak tanah. Sesekali kami berpapasan dengan pendaki gunung yang sedang turun. Mereka memang berniat mendaki gunung, dan bermalam disana, karena itu persiapan mereka sudah lengkap. Sedangkan kami hanya membawa pakaian yang melekat dibadan saja. Setiap kali kami bertanya seberapa jauh lagi sampai kepuncak, para pendaki dan penduduk setempat hanya menjawab “dekat lagi”. Kami terus berjalan namun puncak yang dimaksud itu tidak tampak tampak. Setiap kali kami tanya penduduk setempat, mereka menjawab yang sama.

sama prop

Hari sudah siang,akhirnya kami menyerah, profpun akhirnya menyerah. Kami putuskan untuk turun gunung. Dengan cepat kami berlari-lari menuruni gunung. Lagi-lagi beberapa teman saya terpeleset karena licinnya jalan setapak yang kami lalui. Sesampainya dikaki gunung, kami segera membasuh wajah kami dengan air dari mata air, begitu dingin… setelah itu kami istirahat, kemudian dilanjutkan dengan acara makan-makan ikan bakar. Memang agak mengecewakan karena kami tidak sampai puncak, namun pengalaman selama diperjalanan sudah cukup menghibur kami. Bukankah kata orang bijak jangan melihat hasil akhir, tapi lihat prosesnya. Loh kok? Hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s