Menggelandang di Yogyakarta

Ini adalah cerita saya dan teman saya ketika kami nekat ke Yogyakarta dengan membawa uang pas-pasan. Malam itu kami nekat ke Yogyakarta, mumpung kegiatan koas belum berjalan. Karena uang kami pas-pasan maka kami putuskan untuk berangkat dengan menggunakan kereta api kelas ekonomi. Kami hanya cukup membayar sebesar 20ribu rupiah. Dari stasiun kereta api tasikmalaya kami berangkat sekitar pukul 10 malam. Begitu memasuki kereta, bangku-bangku sudah penuh sesak dengan penumpang-penumpang. Banyak yang tidak kebagian tempat, sehingga mereka harus berdiri. Segala macam bau sudah bercampur baur menjadi satu. Kami pun tidak kebagian tempat. Kami terus menelusuri gerbong kereta siapa tau ada tempat kosong. Namun ternyata semua sudah penuh. Akhirnya kami putuskan untuk membentang koran dan duduk di dekat mesin kereta api. Kebetulan cuma tempat itu yang sepi karena disana cukup berisik dengan suara mesin. Saya tertidur dengan pulas walaupun diiluar sana hujan turun dengan deras sekali, dan tempat duduk kami sudah sebagian basah.

Betapa menderitanya di kereta ekonomi

Sesampainya distasiun di Yogyakarta, kami bingung harus berjalan kemana, karena memang pada awalnya kami memang cuma mau sekedar jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas. Kami mampir dulu kesebuah masjid dan mencuci muka disana. Ternyata teman saya itu ada saudara di Bantul. Akhirnya kami putuskan kesana sebentar untuk sekedar menumpang mandi dan istrirahat sebentar. Setelah kami tanya sana sini, akhirnya kami dapat juga bis yang menuju arah bantul. Disepanjang perjalan terasa alami sekali, sawah sawah membentang luas sekali, jauh disana tampak gunung merapi berdiri dengan kokohnya. Disepanjang perjalanan banyak ditemui petani-petani, mbah-mbah yang memakai pakaian khas jawa. Mereka juga berbicara dengan bahasa jawa yang fasih. Terasa sekali budaya mereka yang begitu kuat dan kental. Akhirnya sampai juga kami ditempat tujuan, saudara temanku itu dengan ramah dan penuh sopan santun menjemput kami dan mengajak kami beristirahat ditempatnya. Untuk mencapai rumahnya, kami harus melewati sawah-sawah terlebih dahulu. Akhirnya kami sampai juga disana. Tampak rumah saudaranya temanku itu retak disana-sini. Retak itu adalah bekas gempa besar yang pernah menggoncang DIY beberapa tahun silam. Kami kemudian langsung istirahat. Saat bangun tidur, ternyata sudah menunjukkan pukul 11 siang. Setalah mandi dan makan, kami berpamitan dengan keluarga temanku itu untuk melanjutkan perjalanan.

UGM

Kami melanjutkan perjalan. Kali ini temanku mengusulkan untuk jalan-jalan ke UGM. Tanpa pikir panjang kami langsung menuju kesana. Daripada kami berjalan tidak menentu dan tidak bertujuan. Setelah tanya sana tanya sini, kami akhirnya sampai ke UGM, Universitas impianku sewaktu aku masih duduk dibangku SMA. Kami berjalan-jalan memutari UGM yang luas itu. Tujuan kami adalah melihat universitas kedokterannya disana.Lama sekali kami disana, kami puterin keseluruhan UGM. Sekalian liat-liat sapa tau ada yang menarik (baca=cewek). Sekalian kami jalan-jalan ker RS sardjito, tepat dibelakang UGM. Lucu juga melihat koas-koas yang berseliweran kesana kemari. Mereka mengingatkan, wah nanti saya juga akan seperti ini nih.. Kemudian kami istirahat didepan RS sardjito, kami mencoba makanan khas jogja yang terkenal keseluruh diindonesia, yaitu gudeg. Manis, kesan pertama saya begitu mencicipi makanan itu, tambah lama makin terasa manis, baru beberapa suap saya sudah berhenti, terus terang lidah saya tidak cocok dengan makanan yang manis-manis.

disimpang yang mau ke malioboro…

Waktu sudah menjelang malam, kami putuskan untuk mengunjungi satu daerah lagi yang sangat terkenal di Yogyakarta, yaitu malioboro. Kami telusuri mulai dari persimpangan bank BNI sampai dengan stasiun tugu. Disepanjang jalan banyak sekali hal-hal menarik untuk wisatawan. Puas sekali kami berkeliling-keliling sambil tawar menawar barang. Akhirnya kami membeli celana batik, dengan harga 10ribu. Itu saja. Karena memang kami tidak membawa uang banyak. Padahal dalam hati sudah pengen beli ini itu. Oh ya awas hati-hati disini banyak cepot, eh copet… Yang bikin saya takjub, dipenghujung jalan, ada sekelompok seniman yang sedang bercampur sari (atau klentingan ya?). kami makan sambil diiringi suara sinden yang lembut, dengan suara-suara gamelannya yang menambah kental suasana kejawaannya.

pasar malam

Malam sudah larut, penjual-penjual sudah mulai sepi, kami lanjutkan perjalan untuk melihat keraton ngayogyakarta. Keraton Yogyakarta dikenal secara umum oleh masyarakat sebagai bangunan istana salah satu kerajaan nusantara. Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Yogyakarta sampai tahun 1950 ketika pemerintah Negara Bagian Republik Indonesia menjadikan Kesultanan Yogyakarta sebagai sebuah daerah berotonomi khusus setingkat provinsi dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta. Karena sudah malam, tidak banyak yang dapat kami lihat. Kami sekedar jalan-jalan disekitar Keraton, ada pasar malam rupanya.Kalau tidak salah pasar malam perayaan sekaten.  Di dekat keraton banyak daerah yang gelap, karena sering dimanfaatkan untuk hal yang tidak-tidak, dan saya sudah liat sendiri.

Malam sudah semakin larut, kamipun sudah mulai mengantuk, kami coba cari-cari tempat siapa tau ada tempat yang bisa dijadikan tempat tidur, dipinggir jalan pun tidak apa-apalah. Kami ke Mesjid Gede Kesultanan, atau Masjid Besar Yogyakarta terletak di sebelah barat kompleks Alun-alun utara. Kami berharap disana ada tempat yang bisa ditiduri, ternyata tidak ada, kami coba tidur di halaman, namun kotor sekali. AKhirnya kami putuskan untuk meninggalkan mesjid gede, dan terus menelurusi jalan. Diheningnya malam, kami terus menelusuri Jalan-jalan disekitar keraton, berharap kami bisa menemukan masjid atau tempat lain untuk menginap. Akhirnya kami temukan pos ronda dipinggir jalan. Kami tertidur disana dengan nyenyak, walaupun udara malam itu terasa dingin sekali. Subuh-subuh kami sudah bangun. Tujuan kami selanjutnya adalah kompleks candi Borobudur.

Kami segera berangkat ke magelang. Didalam perjalan banyak sekali dijumpai pengrajin batu-batu pahatan. Setelah sampai di terminal terkahir, kami makan sebentar disana. Kemudian kami menyewa andong, yang akan mengantarkan kami ke candi-candi disekitaran candi borobudur.

di depan arca… hmmm… siapa tadi namanya?

Tujuan pertama kami adalah candi mendut. Candi Mendut terletak 3 km ke arah timur dari Candi Borobudur, merupakan candi Budha yang dibangun tahun 824 Masehi oleh Raja Indera dari wangsa Syailendra. Pada bagian dalam candi ini terdapat ruangan yang berisikan altar tempat tiga arca Budha berdiri. Ketiga arca tersebut mulai dari yang paling kiri adalah Bodhisattva Vajravani, Buddha Sakyamuni dan Bodhisattva Avalokitesvara. Ketiga arca Budha tersebut masih dalam kondisi bagus, beberapa bunga-bunga dan dupa nampak tergeletak dibagian bawahnya. Sebuah pagar besi dibangun dibagian depan arca tersebut untuk menghindari interaksi pengunjung yang berlebihan/tidak berkepentingan atas ketiga patung Budha ini. Candi ini lebih tua dari Candi Borobudur. Arsitekturnya persegi empat dan mempunyai pintu masuk di atas tangganya. Atapnya juga persegi empat dan bertingkat-tingkat, ada stupa di atasnya. Persis di sebelah candi Mendut terdapat Vihara Buddha Mendut. Vihara ini dahulunya adalah sebuah biara Katholik yang kemudian tanahnya dibagi-bagi kepada rakyat pada tahun 1950an Lalu tanah-tanah rakyat ini dibeli oleh sebuah yayasan Buddha dan di atasnya dibangun vihara. Dalam vihara ini terdapat asrama, tempat ibadah, taman, dan beberapa patung Buddha. Beberapa di antaranya adalah sumbangan dari Jepang.

Kemudian kami lanjutkan ke candi pawon. Candi Pawon terletak 1,5 km ke arah barat dari Candi Mendut dan ke arah timur dari Candi Borobudur, juga merupakan sebuah candi Budha. Saat diteliti secara lengkap pada reliefnya, ternyata merupakan permulaan relief Candi Borobudur. Candi ini berada di atas teras dan tangga yang agak lebar. Semua bagian-bagiannya dihiasi dengan stupa (dagoba) dan dinding-dinding luarnya dengan gambar-gambar simbolis. Setelah puas, kami lanjutkan perjalanan ketujuan utama kami yaitu borobudur.

borobudur..

Akhirnya kami sampai juga ke borobudur yang dibangga2kan sampai keujung dunia. Dari pintu masuk ke candi tidaklah jauh tapi bagi para pengujung yg malas jalan,di sana di sediakan kreta yg jelas itu tidak free loh Akhirnya nyampe juga di candi. Borobudur tampak megah, sempet juga berfikir gimana para nenek moyang kita pada zaman dulu membangun candi semegah itu tanpa bantuan alat2 berat.Meski ada sebagian candi yg lg di renovasi tapi jujur aku mengagumi karya seni ini,ternyata tidak tertelan waktu meski sudah berabad-abad.Tapi sayang…banyak dari kepala arca yg hilang ntah itu hilang di telan waktu atau hilang di ambil orang.

orang hilang

Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut. Begitulah kira-kira pernjelasan singktanya.

Setelah puas, akhirnya kami putuskan untuk pulang. Karena uanmg kami sudah hampir habis, padahal saya masih mau mengunjungi candi-candi yang lain seperti prambanan, Dll.

2 thoughts on “Menggelandang di Yogyakarta

  1. Pingback: Jalan Jalan Ke Yogyakarta « Adin Photo Blog

  2. Pingback: Jalan Jalan Ke Jogja « Adin Photo Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s