Sepenggal Cerita dari Kokoda

Distrik Kokoda adalah sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Sorong Selatan, Propinsi Papua Barat. Distrik ini berada di paling selatan dari peta kepala burung papua barat, berbatasan langsung dengan Teluk Bintuni dan laut Seram. Untuk menuju Kokoda tidaklah gampang karena tidak ada angkutan umum sama sekali, jadi harus menumpang dengan Longboat masyarakat dari Teminabuan, Ibukota Sorong Selatan.

Bersama anak anak Papua

Beruntungnya (atau sialnya?), saya di tempat tugaskan sebagai Dokter PTT di Distrik ini selama beberapa waktu. Walaupun tidak lama, namun banyak hal yang membekas dan tidak mungkin dilupakan. Berikut ini adalah potongan kisah saya yang saya tampilkan berupa cuplikan cuplikan foto selama saya berada di Kokoda.

Cermin raksasa – Foto ini diambil dari kampung Kowetara – Migori, ya seperti nama jepang memang tapi kampung ini sebenarnya berada di Distrik Kokoda. Kokoda memang sebagian besar terdiri dan sungai dan rawa, sehingga sebagian besar kampung penduduk berada di atas sungai dan rawa. Pada saat air sedang pasang, air rawa ini akan menggenangi hampir seluruh rumah penduduk. Air menggenang yang tenang itu disiang hari akan memantulkan apa apa yang berada di atas permukaannya sehingga nampak seperti sebuah cermin raksasa.

Kampung Korewatara Migori

Nebes, Negeri di atas air – Yang ini juga adalah kampung di Kokoda, namanya adalah Nebes, atau negeri besar yang merupakan gabungan dari lima kampung. Dari kejauhan tampak indah memang, air sungai berwarna biru tenang dengan rumah rumah penduduk yang berjejer rapi dan bersih. Namun kalau diperhatikan dari dekat, ternyata airnya tidaklah berwarna biru, tapi hitam pekat seperti kopi. Ya begitulah air rawa, menipuuu. Mengenai Nebes bisa di baca di postingan ini

Nebes

Hari gelap, rumah dinaspun gelap – Inilah nasib menjadi dokter PTT di tempat yang sangat terpencil, tidak ada sinyal, tidak ada air besih, tidak ada transportasi umum, dan tidak ada listrik, rasanya seperti kembali dengan mesin waktu ke jaman sebelum listrik ditemukan. Memang tidak sepenuhnya tidak ada listrik sih, masih ada genset. Namun biasanya genset tersebut hanya dinyalakan kalau ada pak camat. Saya bisa maklum juga sih karena memang minyak tanah sangat mahal disini, yaitu 13 ribu perliter.

Hari Gelap Rumah Dinaspun Gelap

Hujan adalah berkah – Buat sebagian orang, hujan kadang menyebalkan karena dirasa sangat mengganggu pekerjaan. Namun di Kokoda, Hujan adalah berkah. Semua warga Kokoda akan bersorak gembira mengucap sukur apabila hujan turun. Bagaimana tidak, sumber air bersih satu satunya yang dapat diminum cuma dari air hujan saja. Walaupun Kokoda dikelilingi oleh air disamping kiri kanan, namun semuanya tidak dapat dikonsumsi karena merupakan air rawa, air payau dan air laut. Untuk keperluan sehari-hari ( MCK ), saya biasanya menyaring air sungai (rawa) kemudian baru dikasi tawas. Rasanya setelah mandi air tersebut? luar biasa! (gatalnya)

Menampung air hujan

Sarapan!! – Salah satu menu sarapan favorit saya adalah Susu Coklat + Roti Sagu, plus sambil ngemil kacang kenari. Semuanya didatangkan oleh perawat saya dari Maluku. Rasanya jangan ditanya lagi, hambar dan keras! hahaha… Untungnya rasa manis dan air dari susunya agak melembekkan dan memberi rasa sedikit.

Susu Coklat + Roti Sagu

Ulat sagu yang ternyata Enak – Satu lagi makanan yang tidak saya sangka rasanya enak banget. Saya mencicipi ulat sagu ini ketika menginap di Kampung Nebes. Setelah makan malam, saya di suguhkan ulat sagu goreng ini, katanya sebagai hidangan penutup. Awalnya sempat ragu, tapi setelah melihat yang lain dengan lahap memakan ulat sagu tersebut, sayapun memberanikan diri. Rasanya enak sekali, gabungan antara krispi dari kulitnya serta creamy saat isi perutnya terpencet keluar dan memenuhi rongga mulut saya. Kebayang?

Ulat Sagu

Vaksin – Anak┬ámana yang tidak takut dengan jarum suntik? beginilah ekspresi anak-anak pesisir papua barat yang sedang di vaksinasi. Ada yang takut, kaget, penasaran,semua campur aduk menjadi satu saat menunggu giliran disuntik.

Vaksin

Memancing ikan Sembilang – Ikan sembilang adalah salah satu ikan berkumis mirip lele/patin yang banyak di temukan dirawa rawa Kokoda. Ikan ini memiliki duri tajam disalah satu siripnya. Anak anak Kokoda, sejak kecil sudah lihai menangkap ikan ini walaupun dengan menggunakan alat pancing sederhana ( dan tanpa mengenakan pakaian ).

Memancing Ikan Sembilang sambil telanjang

Jembatan Kulit Sagu – Di sebagian besar kampung di Kokoda, akses jalan dari satu kampung ke kampung dan dari satu rumah ke rumah lainnya adalah dengan menggunakan jembatan yang dibuat seadanya. Papan pijakannya pun cuma menggunakan kulit pohon sagu. Kulit pohon sagu loooh… bukan batang kayu, jadi sangat tipis dan lembek tapi cukup lentur. jadi kalau jalan diatasnya goyang goyang karena melengkung kebawah. Warga kokoda bisa loh berlari kesana kemari dengan mudahnya, sementara saya cetar cetir takut jatuh. Sebenarnya sih kalau jatuh saja sih tidak masalah, palingan hanya sakit. Tapi ada yang lebih mengerikan daripada itu yaitu bila ada yang jatuh dari jembatan ini, maka akan kena denda adat berupa wajib memberi makan orang satu kampung!

Jembatan Kulit Sagu

Gizi Buruk – Kalau di jawa ada anak yang gizi buruk, maka pemerintah langsung heboh dan pemberitaan langsung mencuat kemana mana. Namun apa mereka tidak tau kalau hampir di setiap kampung di Papua Barat ada yang menderita gizi buruk? Fakta yang menyedihkan karena selama saya melaksanakan pengabdian saya di Kokoda, ada puluhan bahkan ratusan anak yang terdiagnosa gizi buruk. Lalu kemana pemerintah?

Gizi Buruk di Papua

Hiu! Hiu!! Hiu!!! – Untuk mengisi kekosongan saya setelah dinas puskesmas, biasanya saya ikut memancing dan melihat melihat aktivitas masyarakat kokoda melaut. Biasanya di jembatan Tarof, penduduk duduk berjejer sibuk memperhatikan pancinganya masing masing. Terkadang mereka dapat ikan, udang, kepiting? bahkan hiu!.Di laut perairan Kokoda ini memang banyak hiunya. Sering sekali saya mendapat ikan hiu (anaknya sih…..) hanya dengan memasang jaring saja.

Menangkap (anak) Hiu

Menikah di Kokoda – Ini adalah foto pernikahan salah seorang warga asli Kokoda ( yang perempuan ) dengan seorang pendatang dari jawa (yang laki-laki). Adat yang digunakan nggak jelas, tapi lebih mirip gaya pengantin arab. Memang di Kokoda, mayoritas penduduknya adalah orang Islam sehingga adat istiadatnya pun terpengaruh oleh budaya arab. Pertanyaannya, Kenapa dua insan berbeda suku ini bisa menikah? itulah kekuatan cinta #eaaak

Kawinan

Kaskado alias Gerai – Selain Malaria, penyakit ini adalah yang terbanyak di Sorong Selatan, Khususnya Kokoda. Kaskado alias Gerai adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur dengan bentuk yang sangat khas. Bentuknya melingkar konsentris dan berpola seperti batik. Sekilas nampak seperti tatto :p (keren ya…). Sekedar info buat TS, Penyakit ini adalah Tinea Imbrikata, penyakit jamur yang tidak pernah saya temukan ditempat lain kecuali di sini (papua).

Kaskado

Senja di Kokoda – Foto ini saya ambil setelah matahari terbenam di perairan Kokoda. Fotonya saya ambil diatas longboat yang sedang melaju dengan kencang. Hasilnya perpaduan antara lembutnya air laut bersatu dengan temaramnya langit kokoda.

Senja di Kokoda

Orang papua tidak harus keriting – Saya cukup beruntung bisa melihat anak ini, anak asli Papua tapi rambutnya tidak keriting. Anak ini saya jumpai di Kampung Tapas, kedua orngtuanya berperawakan khas Papua ( Hitam kulit, keriting rambut ), namun anaknya berambut lurus dan berkulit warna. Kok bisa ya?

Rambut lurus alami

Three sixpacker – Dua orang ini adalah pemuda di Kampung Tambani. Dengan ramahnya mereka membantu kami menurunkan barang bawaan ke dalam Longboat. perawakan mereka pendek namun badannya cukup berbentuk dan hey… sixpack. iseng saya tanya bagaimana kok badannya bisa sebagus itu. Mereka menjawab rahasianya cukup dengan makan papeda ( sagu ) saja. Saya pun mengangguk angguk bingung.

Kami, three sixpacker :p

Sekian dulu sepenggal ceritanya dari tanah Kokoda… nanti disambung lagi ya dipostigan selanjutnya. :)

About these ads

28 thoughts on “Sepenggal Cerita dari Kokoda

  1. Wah asik tugas di Papua Barat. Berapa lama?
    Aku baru pulang dari Papua Barat, tepatnya di kampung Tarak, daerah leher burung. Bukan tugas sih, cuma berkunjung biasa. Tapi betah buangettttt.

      • Iyo, Tarak di Fakfak.
        Kok bisa betah? Wah bisa buangettttttt. Orang2nya ramah sekali.
        Masalah tempat yang terpencil, emang sengaja nyari tempat terpencil dan gak dikenal.
        Aku ke sana malah sekeluarga lho, nginep di rumah penduduk. Wah pokoknya bikin ketagihan deh. Ampe sekarang kami tetep keep contact sama mereka sakiing akrabnya.

      • Cuma 10 hari.
        Iya kami sekeluarga disambut kayak tamu besar, pake tarian .. aku lupa apa namanya. Serombongan pemuda menari di atas 2 longboat mengitari longboat kami. Begitu sampe di dermaga, ada tarian perang Noinoi yang dibawakan anak anak kampung Tarak.

        Padahal kami belum kenal mereka sama sekali.
        Wuah terharu sekali rasanya.

        Salah satu penyambutan mereka, ini videonya: http://www.youtube.com/watch?v=IrrlTQRCp1E

      • Yoi.
        Kami sekeluarga ke Tarak, aku suami dan anakku. Yang pake topi biru dan kaos putih adalah Pengajar Muda yang ditempatkan di Tarak.

        Tarian goyang pinggul, hehehehe kurang eksotis dong. Gak direkam tariannya?

  2. ana baru masuk kokoda nih pak dokter, tugas jg satu tau untuk proyek komunikasi cdma:) jembatan panjang di muara sudah rubuh sama angin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s